Adam’s VBAC Home Birth Story

Semuanya bermula 8 bulan yang lalu ketika masih tinggal di Eco Farm, pas tau I’m pregnant again :-). Yang kepikiran cuma, pengen menikmati kehamilan dan proses melahirkan yang lebih menyenangkan daripada pengalaman-pengalaman sebelumnya. Pikirku, this one is going to be my last pregnancy, soalnya udah punya banyak anak. Juga sudah waktunya, aku fokus dan lebih menikmati mendidik anak-anak juga our homesteading life :-).

Hamil dan hidup di 2 lokasi yang super berbeda jadi tantangan tersendiri. Apalagi pas masa-masa morning sickness, wah..super deh, adanya, pas lagi kerja di lahan, green house, atau apapun itu, ddsambil ngantongin fisherman friends, sambil menyuburkan tanah dengan spit or vomit (sorry parno bahasanya).

Akhirnya aku gantian tinggal dirumah kami di kota, karena kerjaan di GMS dan tuk nunggu lahiran juga. Gantian lagi sekarang tantangannya. Suami bakal nggak ada di samping untuk stand by ketika waktunya melahirkan, Mimi juga bakal nggak ada, karena kita terpisah tugas dan tanggung jawab yang nggak bisa ditinggalin. Sebagian anggota keluarga kudu tinggal di Eco Farm (kita nggak punya satpam atau siapapun yang bisa ngejagain EF untuk saat ini). Yang tinggal di rumah kota hanya aku, our 3 little girls under 8, dan big brothernya 11 yo. Tapi keinginan tuk melahirkan secara alami dan menyenangkan, painless udah benar-benar diniatin. There’s a belief in me, why Allah create this woman’s body so incredible and its full of love, and because my body and spirit is full of love, Allah wills me to find the deepest love within my birthing experince. And love is painless or even painfree. It should be something loveable, because its very rewarding.

Tapi karena sebelum kehamilan ini, aku ngelahirinnya harus dioperasi, jadinya, rencana melahirkan gentle natural birth kali ini alias vbac (vaginal birth after cesarean), kudu lebih disiapin. Mulai dari hunting dokter kandungan dan nakes yang pro vbac, sampe bikin pola makan khusus untuk nyiapin vbac versi tubuhku.

Penyulit vbac buatku menurut dokter:
1. Usia diatas 35 tahun (I’m 36 this November)
2. Menjalani banyak kehamilan sebelumnya
3. Rentan memiliki bayi besar (suami caucasian), all my babies was born weighing from 3.5kg-3.9kg
4. Bertubuh kecil, tb 154cm (I think I’m not so small to birth all my babies, I’m having the perfect size for them, because Allah already created me this way)
5. Usia jarak operasi dengan kehamilan kurang dari 3 tahun (jarak ketika hamil 20 bulan)

Kenapa aku bisa jadi kandidat vbac (kategori yang bisa bikin aku ok tuk nyoba) dari sekian kategori tuk vbac:
1. Jenis sayatan horizontal
2. Sudah pernah melahirkan sebelumnya

Jadilah selama masa kehamilan aku periksa hamil ganti dokter sana-sini. Sampe ketemu dr. Novina, yang supportive and rational banget tentang kemungkinan vbac, dan bidan Yulis “Rina”, yang udah aku kenal sebelumnya, dan benar-benar jadi jembatan untuk gentle birth vbac.

What do I do so I can have more chance to have gentle vbac?
1. Bikin pola makan low gi (meski bertahun-tahun makan sehat raw-vegan-vegetarian), tetap aja pola makan dibongkar lagi, biar bayi nggak gede-gede amat, favorable 3.5 kg atau maksimal 3.7kg.
2. Kudu lebih banyak olahraga tidak hanya untuk kekuatan fisik, tapi ditambahin juga sama suami, tuk flexibility dan endurance, jadinya yang tadinya pilates aja, ditambah yoga for pregnancy n sempat mraktekin belly dancing for pregnancy (enak banget dipake waktu kontraksi n ngurangi masalah pegal n nyeri bagian tubuh apalagi pinggang kebawah ketika hamil trimester ketiga.
3. Belajar hypnobirthing, biar lebih ngerti n paham juga mendukung asiknya tubuh ini yang udah dibuat Allah super pintar n full of love tuk menjalani proses kehamilan n melahirkan yang alami dan menyenangkan.
4. Keep in touch dengan nakes terutama untuk menyiapkan proses melahirkan “birth plan” sejak jauh-jauh hari dan emergency exit.
5. Berpikiran positif, tetap aktif, dan paling penting, Always asking for Allah’s guidance, lots n lots of prayers.

Udah datang nih minggu ke 38 kehamilan, semua mulai harap-harap cemas, karena maunya si baby lahir aja, biar nggak gede2 amat dan bisa vbac. Tanda kelahiran juga udah nonggol, mulai dari dia udah di pelvic station 2, bloody show udah tiap hari meski cuma dikit, cervix juga udah menipis dan dilation 2cm (klo ini mah wajar, krn udah anak kesekian). Tiap hari ada aja anggota keluarga besar yang ngecek apa udah mulai kontraksi, apa udah lahiran? Sampe lumayan bikin tambah sebel, soalnya aku juga pengen nih baby lahir soon, tapi aku sadar banget, all babies punya timing sendiri. Unique one! Kenapa? Because Allah is the one who decide their unique moment to come into our hands ;-).

Pas udah minggu ke 40 dan belum ada tanda-tanda mau lahir (setiap minggu periksa, agak2 bikin down, karena kepala bayi yg tadinya dah turun, naik lagi, turun lagi, naik lagi), alasan dokter mulai dari karena bayinya gede, air ketubannya banyak so the baby still floating. But amazingly, my midwife keep my spirit up, babies ada juga yg turun di last minutes alias di menit-menit terakhir, and I have the perfect size for my baby. Jadinya, aku tambah banyak lagi bikin research sendiri, tentang my conditions from week to week. Sampe ngecek dengan usg yang ahli radiologi, tuk memastiin salah satunya ada lilitan di tubuh bayi atau tidak (salah satu alasan operasi sebelumnya karena bayi ada lilitan di lehernya).

Di minggu ke 40, karena keluarga mulai khawatir, bidan Rina ngasih saran tuk nyoba di kasih starter induksi versi mild one lewat pencernaan (kontraksi boongan alias braxton hiks udah muncul sejak bulan ke 8) dan kalau sukses akan jadi kontraksi beneran yang berujung pada kelahiran bayi, tapi… Kalau memang belum waktunya, kontraksi yang muncul akan hilang begitu efek starternya hilang. So,.. I say bismillah and take it to give it a try. Kontraksi muncul 1 jam setelah pil diminum, dan mulai ada polanya, I’m having pressure (contractions) 2-3 times for every 10 minutes. Tapi setelah sekitar 16 jam, pressure wavesnya, mulai menjauh jaraknya, apalagi pas aku bawah tidur karena ngantuk. Dan pressurenya mild banget, seperti niup balon, dan seperti dibawa naik turun ombak..meski beberapa saat, pas pressure-nya seperti naik ombak yang gedean, kudu lebih relax dan dinikmati sambil tetap beraktifitas sambil dengerin hypnobirthing cd di hp.

Minggu berikutnya tgl 6 Oktober di usia kehamilan udah 41 minggu, hitungan hpl lainnya udah mo 42 minggu diakhir pekan yg sama. Dan hasil usg, bb bayi sudah 3.8kg-3.9kg, dan posisi kepala masih mengambang/floating (naik lagi si bayi), hasil NST si bayi sehat aja, dan air ketuban bagus, and all the other signs to support the baby in the womb still good. Tapiii…. Dokter udah ngasih more warning most likely better to have another cesarean karena unusual big baby n still floating. Dokter masih mau nunggu, kalau aku mo nyoba vbac, hanya hingga pas di minggu ke 42, dengan jadwal operasi hari Jumat, tgl 10 Oktober atau kapan saja aku ready (sebelum tanggal 10).

Akhirnya, dengan berat hati, aku jadi pasrah, if this is the best, then I will take it. Sempat nangis juga, pas nelpon suami, ngasih tau hasil periksa terakhir. But he said “you already try your best and prepare everything, be happy and grateful for it”. Mimi, my mom and the family also said the same thing. But Allah had another beautiful plan for me. Harusnya, petang itu, setelah periksa dari dokter, aku kudu ke rumah bidan Rina, aku manggil beliau mbak mulu, saking enaknya berteman ma bidan satu ini.. :-), nggak ngira, biasanya periksa ke dokter cuma 1 jam dan jam 6 dah bisa ke mbak Rina, eh molor sampe jam 8.30 malam baru kelar saking ngantrinya, mana anak-anak aku titipin sama staff GMS, yg kudu pulang jam 9 malam, untung ada mbah putrinya GMS “bu Nyoto” yang bantu jagain anak2 dan mau tidur dirumah kalau staff yg lain pulang. Akhirnya aku mutusin tuk nggak jadi ke mbak Rina, karena sudah malam, plus agak sebel kudu give up home birth plan (karena masalah nggak ada yg bakal ngantarin ke rumah bersalin bidan Rina, dan harus ninggalin anak2 sendiri atau kudu nitipin mereka ke staff, all n all ribet banget, mbak Rina nawarin home birth aja, with good back up emergency plan yg win-win solution for everybody).

Akhirnya, malam itu aku nikmati dengan makan nasi goreng sambil relaxing nonton CSI ma anak-anak sampe mereka pada ketiduran. Malam itu is the best painfree sleep dibanding hari-hari lainnya ketika ganti posisi tidur aja bikin pegel n kram kaki. Apalagi kudu ke toilet a gazilion times disepanjang malam. Malam itu, aku ketiduran nggak tau jam berapa, tapi sama sekali nggak ke toilet, benar2 sleep like a baby, bangun2 udah adzan subuh.

Pagi tgl 7, rencananya jam 8.30 aku mo ke rumah sakit untuk check up (persiapan operasi) yang rencananya dimajuin dari tanggal 10 ke tanggal 8. Mbak Rina aku kabari, ttg hasil periksa semalam, dan keputusan keluarga untuk ngambil c section. Beliau cuma minta aku jangan ke rumah sakit dulu, nunggu dia datang. Jadi sambil nyiapin GMS staff untuk rencana aku ngk ada di tempat selama di rumah sakit, aku nunggu mbak Rina. Jam 8.30 mbak Rina datang, meriksa dan ngabari, klo si baby kepalanya udah turun lagi, cervix udah thinning, dan jalan lahir udah flexible banget. We can try the last starter induction, kalo berhasil, bisa terus nyoba untuk vbac. Berasa lihat a little glimpse of hoping light, aku langsung ngasih tau suami, kalau aku mo nyoba terakhir kalinya untuk bisa vbac, dengan senang hati tapi khawatir dia ngasih lampu hijau. Jam 9, bismillah, starter pil aku minum, dan kontraksi reguler mulai muncul jam 11. Jadinya, aku batalin rencana check up, di mundurin besoknya tgl 8, kalau induksi nggak sukses. Sambil nerusin kerjaan GMS, main dengan anak-anak, nerusin pekerjaan rumah tangga sambil ngerasain pressure waves alias kontraksi yang super nggak menggangu. Jam 2 siang aku minum pil selanjutnya, mbak Rina aku whatsapp, nanyain apa dia ada rencana datang tuk ngecek perkembanganku, katanya tar datang kalau kontraksinya udah setiap 2 menit secara teratur, surprise-surprise, kontraksi 2 menitannya udah sejak jam 11 tadi siang.. Mbak Rina rencana datang sehabis magrib.

Aku ngabari beliau lagi, kalau nih mata dah nggak tahan lagi, ngantuk dan capek seharian ngider ngurusin kerjaan. Habis ngasih makan malam anak- anak dan bersihin dapur, aku ke kamar, matiin lampu, trus siap2 mo bobo… (Adikku Harris, aku titipin anak-anak) sampai mbak Rina datang. Alhamdulillah, ibuku juga lagi dalam perjalanan ke Malang, rencananya mo nemani aku lahiran, ibu rencananya tiba di Malang jam 8 malam. By the way, siangnya suami ngasih tau kalau harus ke kantor imigrasi tuk foto di hari Rabu siang dan bilang akan stay di Malang sampai hari Senin, biar bisa enjoying our baby katanya. Sekitar jam 7 malam mbak Rina nyampe, aku dah ketiduran kayaknya, trus diperiksa, I’m now 3cm dilated, tapi baby still floating. Mbak Rina nanya apa mau ditemani atau tidak, aku minta ditemani (feeling klo kyaknya ada apa-apa deh malam ini), kataku, ibu nggak berani klo ada apa-apa.. Tiap aku lahiran klo dah fase transisi ibu pasti kabur dari ruang bersalin, hehe… Harris pamit pulang n ibu datang jam 8. Trus mbak Rina nelpon asistennya tuk bawa toddlernya yg masih 1 thn n masih ASI tuk nginap di rumah. Pas mereka sampai, kita berempat (2 asisten mbak Rina) ngobrol di kamar sambil setengah kuping aku dengarin hypnoborthing sambil menikmati pressure waves. Sekitar jam 8.30, aku ngerasa kayaknya air ketuban mo keluar nih, asisten mbak Rina, langsung nyiapin perlak dll di tempat tidur. Trus aku berbaring lagi sambil nerusin ngobrol (sekarang tinggal bertiga, mbak Rina ke kamarnya tuk nidurin si kecil), beberapa menit kemudian, air ketuban pecah, trus mbak Rina dipanggil ke kamar, lampu langsung diminta untuk dimatikan, jadi suasananya remang-remang nyaman gitu.. Trus di cek, “mbak Deasi, pembukaannya udah lengkap!, aku tanya apa baby udah crowning? Ternyata belum, karena water bagnya hanya pecah disisi kiri kanan, yg tengah masih ada, aku bilang, pantas aja belum kerasa (sensasi bearing down alias pengen ngejan). Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya water bag bagian tengah pecah dan mbak Rina ngasih tahu kalau pengen ngejan kapan saja silahkan!” (Rencana water birth nggak memungkinkan karena nggak keburu ngisi air ke birthing pool yang tadinya sudah ready di kamar. Seketika, pressure wavesnya jadi super duper deh.. Tadinya ngobrol, langsung jadi grounting with any voice I can feel comfortable with, and try different kind of breathing to birth my baby. Kerasa banget si baby meluncur di birth canal, kepalanya ada di bagian mana, pas udah crowning, pas udah keluar sebagian, pas badannya meluncur keluar, Subhanallah, I can feel each step of the way. Dan kerasa banget this baby is big! Nggak nyangka juga proses kelahirannya super fast, Adam lahir jam 8.50pm. Alhamdulillah akhirnya ketemu juga ma my little baby boy. We name him Adam.

Sambil melewati beberapa tahap selesai melahirkan, I’m spending time with Adam in my arm, dia mulai nyari jari dan mulai menghisap jarinya, akhirnya nemu deh sama namanya the mommy’s fountain. Ketika di timbang, mbak Rina ngasih tebakan, berapa kilo nih? I said 3.8kg, ternyata Adam is 4kg!, dan ngasih tau aku, pas lahir, tali pusar juga kelilit di leher baby (just like Anny), pantes aja dia keluar masuk mulu dari pelvis.

Begitu terdengar tangisan pertama dari Adam, ibuku dan anak2 (kecuali Anny udah ketiduran), yang tadinya pada nunggu lahiran sambil nonton di kamar sebelah langsung datang ke kamarku. It was such a beautiful moment, pas mereka nonggol satu-satu, trus ngeliat their new baby’s brother n mommy. Mereka pada exchited banget, senyum-senyum, Nanya macem-macem, sampe pada nggak bisa tidur setelahnya. Their uncle Harris also came right away (kebetulan adekku dan keluarganya tinggal di Malang juga).

Di kamar tempat bersalin, jadi rame banget, mbak Rina dan 2 asistennya masih sibuk tapi dengan santai ngeladeni pertanyaan anak-anak, dengerin celotehan, becandaan, anak-anak yang pada ketawa ketiwi ngomongin baby n mommy, ibuku jadi kayak polisi, ngejagain mereka biar nggak ngegangguin banget, kayak pasar malam jadinya.. :-).

Just the perfect home birthing experience I was praying and hoping for. It was very much painless, enjoyable, so much love around and fun!

May Allah make each woman having an easy, enjoyable and rewarding delivery. Its possible! ^_^

Deasi

Advertisements

7 thoughts on “Adam’s VBAC Home Birth Story

  1. Inspiring banget mba, Pertama aku juga bawaan bayi besar 4 kg an lebih, 2 anakku c-section. Jadi ngeri gitu kalau mau nambah lagi. Kebayang masuk kamar operasinya, Nggak banget deh. Tapi setelah baca ini jadi mulai memikirkan untuk nambah. thanks for sharing. Oh iya aku juga tinggal di malang. pengen belajar homesteading. ada kursusnya kah?

  2. Soo inspiring critanya mbak. HPL q 2bln lagi ini. Tapi msh bingung mau lahiran dmn. Pengen bgtt homebirth kyk gini. Boleh tau ga biayanya kira2 berapa ya kalo manggil bidan rina & teamnya kerumah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s