Green Culture “Memulai Kota Hijau Dari Keluarga”

Hari ini, saya dan mbak Dini yang penulis Sahabat Bumi keren, yang kebetulan juga member Green Mommy Network, yang kebetulan juga sahabatku di Home Education dan tetanggaan.. bersama Mbak Kristien Yuliarti yang indah banget karya2 Compost Artnya dan guruku belajar Composting pake Keranjang, kita diundang oleh Pak Pandu Yanuar, tuk ikutan di Forum Group Discussion tentang Green City (Malang kebetulan jadi salah satu dari 4 kota untuk dijadikan pilot project Green Cities ini).

Kita para ibu-ibu ini diundang tuk ngisi sharing dari pelaku green life atau sustainable life dan kontribusi kami (wehh, berasa yg gendongannya beuratt nih.. bawa lappy, ipad, hp, ceramic jus bottle). Aku ma mbak Dini, share taxi ke Balaikota, mbak Kristien bawa motor sendiri. Asik juga acaranya.. ketemu sama komunitas hijau dan related, sempat senam2 juga.. Tapi sayangnya pak Walikota dan Ketua PKK nggak ngedengarin sharing kita karena dah ada acara lain (pas pembukaan datang). Padahal, super banget butuh mereka2 ini tuk ngasih dukungan riil ke green people but not alien kayak kita-kita nih.. @_@

Btw, saya sharing ya, yang tadi saya sharing di balaikota πŸ™‚

Btw, Terima kasihku dari hati yang paling dalam (hati ada berapa tingkat ya?), buat honey yang sudah ngebantuin aku tuk bikin presentasi. Kita bedua sampe berdiskusi sambil dia packing mo ke LN, tujuannya biar sharingnya mengena, kita ngomong apa nih, secara ngomong isu sustainability, ngoceh 20 jam pun nggak akan putus! thanks honey! you really always have my back (including scratching it when its itchy there, hehe!! well mimi does scratch my back too, haha! ngawur wes..!)

green culture

Cocok sekali kan ya? Yang sharing, adalah ibu-ibu seperti kami. Tapi Jangan salah, wanita terutama ibu adalah salah satu tonggak utama untuk sukses tidaknya sebuah keluarga dalam hal ini untuk menjadikan keluarga sustainable hidupnya atau berkelanjutan.

apa itu green

Apa itu green living? Dan sustainability

Pastinya jauh dari bayangan kebanyakan orang, kalau hidup mandiri itu seperti hidup jaman the flintstone alias jaman batu.. Wah jangan salah

Green living adalah hidup yang hijau, dimana kita manusia membuat pilihan-pilihan hidup yang berkelanjutan mulai dari apa yang kita makan, bagaimana kita bepergian, bagaimana kita memakai produk dan akhir cerita dari produk tersebut. Dan pada akhirnya, semua pilihan-pilihan hidup kita tersebut akan menciptakan hidup yang berkelanjutan atau sustainable lifestyle.

Apa itu sustainability?

Adalah kemampuan kita untuk berkelanjutan

Atau

Kapasitas kita untuk bertahan

Dalam konteks ini, sustainability adalah kemampuan kita untuk hidup dibumi ini saat ini dengan level terpenuhinya kebutuhan hidup kita β€œsecara nyaman” dan kemampuan ini akan terus ada hingga anak cucu kita nanti tanpa terkompromikan.

Slide3

Sedikit sharing mengenai pengalaman keluarga kami menuju sustainability:

Ini foto keluarga kami, banyak anak jadi green power lho πŸ™‚ (tapi jangan ikut-ikutan ya, nanti nambahin populasi bumi aja)

Lebih dari 1 tahun kami sudah bisa mandiri dari sumber energi, sebagian makanan sudah bisa kami hasilkan sendiri, kami berhomeschool untuk pendidikan anak-anak, air untuk kebutuhan hidup dan bercocok tanam kami dapatkan dari panen air hujan, kami membuat produk kebutuhan rumah tangga sendiri seperti membuat sabun mandi, shampo, sabun cuci piring, detergen, kosmetik, roti, saos tomat, saos sambal, membuat kompos, bertanggung jawab terhadap sampah yang kami hasilkan dan masih banyak lainnya.

Tadinya kami tinggal di kota menjadi penduduk urban, berkontribusi terhadap tingginya tingkat pencemaran, degradasi bumi beserta segala polemik masyarakat modern termasuk konsumerismenya dan kami menggambil langkah nyata untuk berhenti mengikuti siklus tersebut, karena sadar, dan merubah hidup menuju keberlanjutan.

Tadinya kami sekeluarga bertahun-tahun berusaha untuk hidup secara sustainable di setting rumah perkotaan, dengan berbagai macam cara, mulai dari menggunakan panen air hujan sebagai pasokan utama air untuk kebutuhan hidup sehari-hari selain makan dan minum, bercocok tanam dilahan pekarangan terbatas termasuk di atap rumah, menggunakan sistem aquaponics, mengikuti pola makan vegan-vegetarian-raw food (hingga saat ini), memilih tidak memiliki kendaraan bermotor (sepedapun kami sekarang tidak punya), kami memilih sharing kendaraan, membuat produk untuk kebutuhan rumah tangga sendiri. Tapi seiring waktu, rasanya kami tidak bisa maksimal untuk bisa mandiri dan sustainable hidupnya, sekarang kami hidup mandiri jauh dari daerah perkotaan.

Kami juga menjalankan usaha yang kami sebut Eco Bisnis (bisnis ekologi) selama 5 tahun terakhir di kota Malang, meski tidak setiap harinya saya berada di Kota Malang. Tadinya saya dan suami memiliki pekerjaan yang jauh dari mendukung langkah nyata kami menuju sustainability.

Slide4

Saya flash back dulu, berbicara secara global.

Seperti di belahan dunia lainnya, Indonesia juga menghadapi masa depan yang tidak pasti dan bisa dibilang bisa menjadi sulit jika masalah keberlanjutan tidak dianggap serius dan tidak diambil langkah serius, dan bahkan bisa menjadi bencana.

Ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki kesempatan kita untuk terus hidup berkelanjutan, tapi hal ini hanya bisa akan terjadi, jika kita mau merubah prioritas-prioritas dan cara kita berpikir tentang hidup kita dan tentang masyarakat kita.

solusi

Kita sebagai setiap individu yang pastinya memiliki peranan sedikit atau banyak atas keadaan bumi saat ini, harus sadar akan adanya masalah. Harus mengakui bahwa masalah keberlanjutan itu ada. Bahwa masalah itu adalah hal yang negatif. Tidak perlu kita tutup tutupi atau mencari kambing hitam dari permasalahan yang ada.

Rata-rata dari kita, tidak nyaman dengan adanya masalah, siapa juga yang suka dengan masalah? Sering kali kita menyangkal kebenaran yang ada, karena rasanya tidak nyaman untuk berubah karena kebenaran tersebut berbeda dari keseharian kita. Tapi lihat sisi baiknya, dari setiap masalah pasti ada perbaikan, ada kreatifitas. Sudah kodratnya bahwa masalah itu adalah sesuatu yang pasti ada di bumi ini, dan kita akan mencari cara untuk mencari solusi. Tapi sayangnya, biasanya orang kita, jika ada masalah, yang kita lakukan adalah mencari kambing hitam atas masalah tersebut, atau membuat alasan agar kita merasa nyaman atau tidak merasa negatif atas masalah yang ada dan merasa oh, kita masih ok kok, yang kita lakukan nggak jelek-jelek amat, masih ada orang lain yang melakukan misal polusi lebih parah dari kita.. Mentalitas seperti ini tidak akan pernah membawa kita pada perubahan.

Yang kita perlukan adalah mengakui adanya masalah dengan lapang dada, kemudian mencari solusi dan menjadi bagian dari solusi.

Dalam hal ini sangat penting agar pemerintah terutama presiden secara terbuka mengumumkan atau memberitahukan ke masyarakat bahwa kita memiliki masalah keberlanjutan hidup manusia dan bumi ini. Dan ini adalah masalah yang sangat penting.

masyarakat modern

Hingga saat ini kebanyakan masyarakat tidak mengetahui masalah kondisi bumi, kita terlena dengan kenyamanan kehidupan modern, kehidupan serba instant, tanpa tahu kondisi bumi dan penunjang keberlanjutan keberadaan manusia di bumi ini sudah sangat mengkhawatirkan keadaannya.

Dan seketika ketika segalanya sudah terlambat, kita tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi untuk mengubah keadaan.

puncak ketersediaan minyak bumi

Mungkin teman-teman sudah tahu mengenai salah satu masalah sustainability yaitu peak oil atau puncak ketersediaan minyak bumi.

Sadari atau tidak, minyak bumi adalah darah dari kehidupan modern terutama kehidupan diperkotaan. Tanpa adanya minyak bumi tidak akan ada kehidupan modern, bahkan tanpa adanya minyak bumi, tidak akan ada makanan (ini cerita lain lagi mengenai dimana saja minyak bumi mempengaruhi kehidupan kita).

Coba bayangkan hidup kita saat ini tanpa minyak bumi, atau mudahnya, bayangkan hidup tanpa sumber energi apapun itu.

Dikarenakan oleh ketergantungan kita terhadap sumber energi yang tidak bisa diperbaharui sangat besar, kita menjadi kehilangan kemampuan untuk mencukupi kebutuhan hidup termasuk yang paling mendasar yang pada kenyataannya, sumber energi ini semakin lama semakin menipis cadangannya dan suatu saat pasti akan habis dan sedihnya lagi, setiap saat kebutuhan akan sumber energi ini semakin bertambah permintaannya. Bahkan beberapa ahli sudah mengatakan bahwa peak oil atau puncak ketersediaan minyak bumi sudah lewat. Jadi sangat tidak masuk akal ketika globalisasi malah didengungkan, ketika kebutuhan untuk sumber energi listrik saja kita pas-pasan (malah seringnya mati lampu, mungkin di Malang jarang, tapi dibanyak daerah lainnya di Indonesia sering mati lampu atau malah belum terjangkau listrik, Manado pastinya yang saya tahu sering mati lampu, karena saya lahir besar disana).

Para petani berhenti bercocok tanam karena tingginya biaya untuk bercocok tanam yang tidak sustainable dan pindah mencari pekerjaan di perkotaan untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya dan kita malah mendorong masyarakat yang pada kenyataannya tidak mampu untuk hidup dengan gambaran kenyamanan modern seperti memiliki kendaraan bermotor seperti mobil. Sedihnya lagi, jalan-jalan untuk mengakomodasi kendaraan bermotor tersebut sudah tidak memadai, sangat padat belum lagi masalah lainnya yang ditimbulkan seperti meningkatnya masalah polusi, kecelakaan lalulintas, dll.

belajar sustainability

Telah banyak negara yang sejak tahun 90an telah terbuka matanya dan memulai berbagai program untuk memperbaiki berbagai kondisi seperti mengurangi pajak untuk energi terbaharui, meningkatkan denda atas polusi, dan bahkan mengajarkan permakultur dan mempekerjakan para konsultan permakultur untuk memberikan nasihat/masukan kepada pemerintah.

Foto ini diambil dari Eco Farm kami di Desa Kemiri, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, tempat keluarga kami tinggal, dimana kami menggajarkan tentang masalah sustainability, green living bahkan permakultur ke masyarakat. Kami mengajarkan tentang penggunaan dan potensi energi terbaharui seperti energi matahari dan angin, memasak menggunakan solar oven, berkebun organik dengan green house, dan banyak lainnya.

community power

Namun pada kenyataannya Indonesia masih sangat ketinggalan untuk solusi masalah keberlanjutan dan banyak PR yang harus kita kerjakan.

Tetapi meski Indonesia ketinggalan dalam segi ketersediaan teknologi untuk menunjang transisi kita menuju green living and sustainability, kita memiliki keunggulan yaitu rasa kekeluargaan atau community power yang JIKA dipergunakan dengan benar, akan bisa menjadi kunci menuju Indonesia yang lebih sehat, alami dan berkelanjutan.

green lifestyle mulai dari mana?

Saya dan suami sudah sangat sering berdikusi dan berdebat masalah-masalah diatas dengan banyak orang lainnya dan hampir selalu yang menjadi akhir dari pembicaraan kita adalah mereka akhiri dengan perkataan

β€œPemerintah kita akan mencari solusi dan menyelamatkan kita jika keadaan menjadi buruk”.

Kita tidak bisa berpikir seperti itu, karena setiap keluarga, setiap individu, dan masyarakat sendirilah yang harus membangun masa depan mereka dengan mencocokkan gaya hidup mereka ke tatanan dan kemungkinan-kemungkinan yang realistis untuk mereka sendiri dan berfokus kepada keberlanjutan daripada mindset konsumerisme jangka pendek.

Green Life dimulai dari diri kita sendiri!

bisnis hijau

Ada banyak hal yang harus kita lakukan untuk mengatasi masalah-masalah sustainability termasuk untuk berhenti melakukan hal-hal tertentu. Contoh sederhananya jika kita pikir sesuatu hal itu tidak berkelanjutan, maka sebaiknya kita kurangi atau berhenti memilih atau melakukannya. Misal berhenti meminta tas plastik ketika kita berbelanja di pasar. Atau berhenti menggunakan motor, jika kita bisa berjalan ke suatu tempat yang terjangkau jaraknya dan masuk akal durasi tempuhnya.

Peran pemerintah untuk membuat Indonesia lebih hijau, lebih sehat dan lebih berkelanjutan menjadi sangat penting dan menjadi keharusan agar solusi bisa mulai dikerjakan.

Idealnya Pemerintah HARUS mendeklarasikan, menyatakan komitmen secara terbuka, secara terang-terangan untuk membuat Indonesia lebih berkelanjutan, disetiap level pemerintahan hingga ke masyarakat.

Misal, akan sangat tidak efektif dan tidak cukup jika pemerintah hanya mengatakan, bahwa kami mendukung solusi bisnis hijau atau bisnis ramah lingkungan yang pada kenyataannya kebanyakan masyarakat tidak bisa menjangkau harga produk-produk ramah lingkungan yang tanpa bahan kimia berbahaya yang bisa membahayakan kesehatan masyarakat dan kelestarian bumi. Masyarakat kita secara otomatis tentu akan melihat harga produk yang murah dibandingkan dampak negatif jangka panjang yang bisa terjadi terhadap kesehatan dan lingkungan hidup.

bersama kita bisa

Pemerintah semestinya tidak perlu khawatir, kalau akan butuh dana yang tidak sedikit untuk melakukan kampanye hijau, karena telah ada banyak organisasi dan individu-individu yang telah bekerja keras, berbagi kepedulian dan berbagi pengetahuan mereka yang akan melakukan banyak hal untuk mereedukasi masyarakat bahkan hingga ke tingkat bisnis.

Tetapi kami-kami ini yang sering disebut green people (tapi kita bukan alien ya) yang kami butuhkan adalah dukungan, bahkan support moral dari pemerintah yang pada akhirnya akan berujung pada masyarakat yang akan menjadi percaya diri atas program-program dan ide-ide yang dipromosikan oleh green people dan green organization ini.

Usaha seperti ini akan menjamin Indonesia yang lebih baik dan harus dilakukan secara berpartner/berkolaborasi dari RT, RW, Kelurahan hingga jenjang teratas.

Solusi hidup berkelanjutan harus dimulai dari tingkat terbawah dengan kerjasama dari pemerintah di level teratas.

apa saja produk yang tidak sustainable?

Sharing ini saya akhiri dengan sedikit PR buat teman-teman semua J

Kalau ada yang kesulitan, dengan senang hati akan saya bantu.

komunitas green mommy

Semoga sharing saya bermanfaat ^_^

I’m still messy in my head, but my journey to sustainability can’t stop because of my messiness business πŸ˜‰

Deasi

Advertisements

6 thoughts on “Green Culture “Memulai Kota Hijau Dari Keluarga”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s