Sustainable Life ala Homestead di abad ke 21

Untuk teman-teman yang belum kenal dengan yang nulis, perkenalkan, nama saya Deasi Srihandi. Postingan ini saya tulis untuk membantu teman-teman dalam memulai membuat perencanaan dan membangun hidup yang sustainable ala homestead gaya kalian sendiri di abad ke 21. Harusnya aku nulis ini sebelum aku posting tentang keahlian homestead (postingan minggu lalu). Tapi begitulah gaya nulisnya orang yang punya scattered brain alias isi otaknya semrawut apalagi bloggingnya amatir pula 😦 (nggak naik-naik pangkat sejak blogging 9 tahun yang lalu!).

Oke, balik ke tulisan, fokus!
Aku sharing dulu ya, apa arti judul di atas:
1. Sustainability: hidup mandiri, dimana kehidupan itu bisa terus bergulir tanpa input sama sekali atau minim input.
2. Homesteading atau homestead: hidup mandiri termasuk bisa menghasilkan sumber pangan sendiri. Bahasa ini awalnya dari USA, tapi kemudian diadopsi dipakai diseluruh dunia, untuk mengartikan hidup mandiri dengan menggunakan 1 kata saja. Karena esense dari homestead itu ya seperti apa adanya hidup manusia secara mandiri sejak jaman adanya manusia.
our eco farm entrance.jpg

 

Sedikit tentang hidup sustainable ala homestead di abad ke 21, karena berbagai polemik masalah global mulai dari konsumerisme, sampai yang paling mengancam keberlanjutan kehidupan manusia (ya buminya juga), karena keterbatasan sumber energi, sumberdaya alam dan over ekspolitasi karena gaya hidup modern kita ini, maka bertambah banyaklah keluarga/manusia yang memilih untuk hidup sustainable ala homestead di berbagai penjuru dunia, termasuk kami sekeluarga yang mencil di atas gunung di Malang. Homesteader modern seperti kami sekeluarga ini berusaha untuk hidup mandiri diberbagai aspek pemenuhan kebutuhan hidup manusia.

Aku harap, yang baca tulisan ini, ya teman-teman yang berharap, bermimpi dan berusaha untuk bisa hidup mandiri/sustainable. Tapi mohon jangan diketawain ya, tulisan pengantar ini hanya celotehan kepalaku tuk bantuin kalian, aku sharing sedikit dari pengalaman keluarga kami (I’m not an expert).

Suami (aku nyebutnya honey aja ya, seperti keseharianku, ehemm..). Honey dan aku sudah merencakanan ide untuk hidup sustainable ala homestead sejak awal kami menikah. Sebelum menikah, Honey sudah punya rencana untuk hidup seperti ini suatu hari nanti. Setelah menikah hidup kami berubah-ubah mengikuti perkembangan atas capaian dari rencana jangka panjang cita-cita untuk hidup sustainable. Banyak hal yang datang pergi dan mengubah kehidupan kami sekeluarga. Mulai dari pindah negara, pindah kota hingga berpindah-pindah rumah dalam satu kota, termasuk juga punya anak (banyak anak!), nggak punya pekerjaan tetap (tapi alhamdulillah kesehatan nggak pernah menjadi masalah), dan masih banyak hal lainnya. Keyakinan akan cita-cita itu tetap ada di hati dan pikiran dan doa serta usaha. Hal yang paling sederhana dan murah kita mulai dari mengumpulkan buku untuk perpustakaan sumber informasi dan pendidikan untuk keluarga. Seiring berjalannya kehidupan keluarga kami, bertambah pula keahlian untuk hidup mandiri kami berdua. Kami berdua belajar mulai dari belajar dari teman, belajar sendiri, kursus, belajar darimanapun yang memungkin kami tuk belajar. Banyak deh yang kita lakukan biar bisa belajar. Buat kami berdua (dulunya), apalagi honey ngajarin aku, Sekali kita menguasai sesuatu ilmu, ilmu itu tidak bisa diambil dari diri kita! (sippp kan!).

 

Kita berdua juga bekerja untuk bisa hidup sehari-hari, dan bekerja untuk bisa mendapatkan dana untuk bisa belajar. Sering juga kita berbagi pengetahuan/keahlian yang kita miliki dengan orang lain (alias ngajarin orang lain). Pengetahuan itu adalah sesuatu yang sangat penting buat kami. Saya nggak ngomongin “sekolah dibangku sekolah lho ya” tapi Sekolah dari kehidupan”. Belajar dari segala hal yang kami lalui setiap harinya, dan berharap sambil berusaha memastikan kita tidak mengulang kesalahan yang sama dikemudian hari nanti.

 

Kami berdua sadar banget kalau hidup yang sederhana dan mandiri (sustainable) itu adalah kehidupan yang kami inginkan untuk keluarga kami. Kita percaya kalau kesempatan untuk hidup mandiri itu akan datang suatu saat nanti (tapi kita nggak tahu, kapan itu akan terjadi). Tapi setelah bertahun-tahun lamanya mencari tanah/lokasi yang pas dihati dan di kantong, akhirnya, 3 tahun yang lalu kita bisa membeli tanah impian itu!. Nggak mudah untuk membangun segalanya dari nol. Tanah yang kami beli hanyalah tanah kosong di atas daerah pegunungan yang pohonnya pun tidak banyak. Masalah pendanaan juga bukanlah hal yang mudah. Tapi buat kami, itu bukanlah hal yang mustahil. Saran buat teman-teman yang masih ditahap mencari tanah, kalau sudah ketemu tanah yang cocok, lakukan apapun sebisanya yang halal untuk mendapatkan tanah tersebut!.

 

Kemungkinan besar, kalian harus berkorban untuk membeli tanah tersebut, tapi begitulah adanya hidup. Nggak harus dipoles pake kembang gulali deh mimpi dan kenyataannya. Kami sekeluargapun melewati waktu-waktu yang nggak mudah, berjuang, termasuk uang juga terkadang bukan hal yang mudah untuk didapatkan. Kita berdua bekerja tanpa pilih-pilih pekerjaan untuk mendanai keluarga. Dan hal ini membuat kami menjadi lebih bijak. Apa sih maksudku cerita seperti ini? maksudnya, agar teman-teman jangan mudah menyerah, kalau kalian ingin bisa hidup mandiri, tapi belum kelihatan kesempatan untuk itu, meski mata sudah memercing dan mencoba melihat ke ufuk timur pake sedotan tetap aja nggak kelihatan kapan bisa beli tanah atau mulai hidup sustainable, please..jangan putus asa. Kesabaran dan kekuatan berjuang adalah 2 hal (selain berdoa lho ya) yang paling penting untuk kalian camkan.

 

Alhamdulillah untuk kita berdua, berkorban itu bukan sesuatu yang sulit. malah mudah banget. Kita berdua nggak percaya sama hal-hal seperti “butuh furniture rumah paling trending, baju baru, sepatu branding, mobil, dan hal semacamnya. Bahkan hingga saat ini saya nulispun, motor kita nggak pernah punya, apalagi mobil, dulu punya sepeda, karena sudah jarang dipake, akhirnya kita jual. Laptopku pun itu bukan yang paling terkini, hp juga beli second hand. Kita nggak percaya kalau misal kita butuh teknologi terkini dan harus up to date buat hidup. Kita juga nggak percaya kalau anak-anak kami butuh hp untuk bisa “eksis”, yang ada kita ketawa aja. Termasuk kita juga nggak percaya kalau bisnis tanpa punya mobil tanpa motor sendiri itu nggak bisa jalan.

 

Balik lagi ke kata homestead, para pelakunya yang dinamakan homesteader itu kalau ditarik benang merahnya, semuanya ingin hidup lebih sederhana dan lebih mandiri untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, apapun latar belakang dan lokasi dimana mereka hidup.  Ada yang hidup sustainable/berhomesteadnya cuma untuk mencukupi kebutuhan pangan sayuran aja, ada yang sampe bisa bikin solar power dan bikin serat kain sendiri bahkan ada yang sampe bisa bikin minyak untuk bahan bakar mobil mereka!. Tapi maksud saya, nggak ada jalan yang salah dari berbagai macam contoh sustainable living, nggak ada juga jalan yang paling benar. Karena semua orang/keluarga punya idenya masing-masing untuk membangun kehidupan mandiri mereka ala homestead. Cuma kita sendiri yang tau pasti tentang mimpi dan kebutuhan kita. Jadi jangan biarin iklan di tv atau you tube atau majalah ngisi mimpi kalian ya!
Kalian tau dengan persis, gimana status keuangan kalian untuk mencapai mimpi hidup sustainable, untuk membangun surga di tanah yang kalian inginkan. Mungkin sebagian dari kalian sudah pada punya tabungan, mungkin ada juga yang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari aja masih megap-megap. Mungkin ada yang bisa langsung ke tahap beli tanah untuk memulai hidup yang sustainable karena sudah punya tabungan, mungkin ada juga yang tahap untuk hidup sustainablenya kudu ngumpulin ilmunya dulu karena belum punya uang. Dimanapun tahap kalian, tetaplah semangat!

 

Banyak yang sering nanyain, Keluarganya Bu Deasi itu nggak suka bersosialisasi ya? jangan salah..  kita nggak seperti itu. Hidup yang sederhana dan sustainable bukan berarti kita memutuskan diri dari kehidupan sosial. Tapi penting untuk kalian ingat, bahwa untuk bisa hidup sustainable, kalian harus mikirin untuk lebih suka melakukan hal sendiri, menolong diri sendiri dan mengambil alih misal dari ketahanan pangan dari rumah/halaman sendiri. Bayangin deh, bangun pagi nggak harus buru-buru ke kantor atau ke sekolah, nggak harus bermacet-macet ria di jalan, nggak harus khawatir kalo besok perusahaan tempat kita kerja harus ditutup dan kita kehilangan pekerjaan.

 

Dan bayangkan pula, kalau kalian hidup sustainable, membangun surga hidup kalian sendiri alias bisa mandiri, listrik dari tenaga surya atau angin atau apapun itu, nggak harus mikirin bayar tagihan PLN. Makanan tersedia dari lahan kita. Nggak harus beli mobil karena jarang kemana-mana dan jadinya nggak butuh kendaraan. Dan semua kemandirian yang kalian lakukan secara tidak langsung akan sangat mengurangi jejak karbon kalian di bumi ini. Jadi super ramah lingkungan kalian jadinya.

 

Nah kalau sudah punya uang untuk nyari tanahnya, jangan lupa, pilih tanah yang buat kalian, tanahnya itu kok seperti berbicara kepada kalian (kita juga gitu soalnya), nyari tanah sampe kayak lagu doraemon “mendaki gunung, lewati lembah!” serius, sampe kita hiking keluar masuk hutan (hutan beneran), sambil gendong Anny yang waktu itu usianya 1 tahun, bawa Zahra yang masih 3 tahun, Yasmeen 5 tahun (gantian gendong anak sama Mimi my cowive), hanya untuk mencari tanah impian kami sekeluarga! Kalian mungkin mikir, ih ribet banget sih, mbok ya yang pergi nyari tanah suami istri aja, atau bawa anak yang bisa jalanlah, yang udah gede yang kuat jalan sendiri di medan berat. Itu tidak berlaku buat kami sekeluarga. Hidup berkeluarga itu, ya semua anggota keluarga harus dihargai dan diperhitungkan aspirasinya 😉 buat kami, semua harus jatuh cinta sama tanah yang kami cari, karena itu mimpi kami sekeluarga, jadi every step of the way in looking for the land, we do it together as a family, Happily!.
2013 when we start our eco farm.jpg
Sustainable homesteading itu bukan lifestyle, tapi transisi kehidupan. Ini adalah hidup yang membebaskan diri kita dari hidup yang konsumeris, yang ujung-ujungnya adalah hidup kita yang jadi lebih sehat, hidup lebih hemat secara keuangan dan bumi yang lebih baik.

 

Sederhana itu lebih baik adanya.
Hasilkan pangan kalian sendiri, hiduplah yang lebih sehat, nikmati alam, memiliki tempat yang aman untuk membesarkan buah hati kita dann pengeluaran (keuangan) untuk hidup jadi superrrr sedikit, belum lagi, secara nggak sadar kalian sudah super berkontribusi untuk mengurangi dampak kerusakan bumi dan berbagai masalah pelik global jadi bonus dari hidup yang sustainable ala homestead di abad ke 21!

 

As Always, Sustainability itu mulainya dari Kamu!
Deasi
Advertisements

One thought on “Sustainable Life ala Homestead di abad ke 21

  1. MasyaAllah mba Deasi ngefans bgt!! I followed your ‘daily schedule’ nyontek format dll and it really hepls! Semoga suatu saat bisa nyontek lifestyle ‘homestading’-nya juga 🙂 I love you. Barakallah fikum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s