Sustainability Starts From You

I can hear youuu… I know, I do understand (and I might know very well more than you know yourself about your excuses which I don’t judge) πŸ˜‰ about self sufficient, more than DIY aka mandiri β€œsustainability” pasnya. Sustainable kedengarannya topik yang ruuibbeettt banget, terlalu besar, terlalu ruwet sampe nggak bisa dibayangin, apa sebenarnya hidup seperti itu memungkinkan atau tidak untuk dijalani oleh masyarakat. Jangan khawatir dehh. Aku nggak maksa tuk kalian mulai memelihara domba biar bisa dapat wol dan mintal benangnya tuk dibuat baju (we tried that too! But you don’t have too!). Atau mungkin bujukin kalian, biar semua pada nyari rambanan sawah (sawah aja udah susah didapat).

kids walking.jpg

Ide utama tentang sustainability itu (at least for our family, that’s why I share, we share), bahwa sustainability itu bisa kita lakukan hingga tingkatan tertentu. Nggak munafik, kitapun (you n us) masih harus pergi ke toko tuk belanja ini dan itu, atau pakai kendaraan untuk turun gunung :-). Mungkin untuk saat ini, sustainability versi kalian cuma sebatas bisa bikin secangkir teh yang tanamannya kalian tanam di pot di pekarangan rumah, atau sebatas untuk bikin salad alias lalapan sehari-hari dari halaman rumah. Tapi cobalah tuk menenggok di sekitar kita. Ada banyak hal yang bisa kita perbaiki agar bisa lebih sustainable. And that’s why I’m sharing with you girls!

Kami sekeluargapun masih dalam perjalanan menuju hidup yang lebih sustainable. Cuma bedanya, kami sekeluarga sudah ada dijalan ini lumayan lama, dan ini yang bikin kita punya sesuatu yang lebih untuk kita sharing dengan teman-teman semua. My husband and I, alias kita bedua punya background bertani n beternak dengan cara tradisional mix modern n bikin banyak hal homemade, terutama honey bunny sweety (huni buni sweti klo aku ma mimi ngetiknya) yang sejak kecil sudah terekspose dengan hidup yang more or less sustainable. Ayahnya peternak lebah dan farming, almarhumah ibunya membuat sepatu kulit handmade sepanjang hidupnya. Tapi ide untuk membuat hidup ini lebih sustainable di pihakku (bukan suami), adalah sesuatu yang datang secara bertahap terutama sejak menikah dengan Green Dad, the only person who turn my world downside up, πŸ™‚ completely!

kid cutting wood.jpg

Segera setelah menikah, saya menjalani bergunung-gunung unlearning things in life yang sudah aku jalani sejak lahir hingga moment akan menikah. Perubahan kami sekeluarga untuk hidup yang lebih sustainable berjalan secara alami, meski nggak mudah pada kenyataannya. Terutama aku nih, setiap harinya sepanjang hidup yang udah nyadar (setelah menikah), berjuang untuk membongkar dan berhenti dari kebiasaan-kebiasaan buruk untuk hidup lebih sustainable. Manusia sejatinya kan seperti itu juga, secara alami, kita pasti mau hidup lebih baik, selaras alam, dan apa-apa kebiasaan buruk yang sudah mendarah daging, akan kita rubah, hopefully sesulit apapun itu kita nggak boleh menyerah. Dan setiap harinya ada saja yang ditanyakan teman-teman baik dalam Green Mommy Circle ataupun nanya ke Green Daddy. Mulai dari gimana sih masang solar power, gimana bikin food forest, atau kebanyakan kalau nanyanya ke saya adalah seputar homesteading mulai dari β€œmake everything from scratch”, tentang wanita n jadi ibu gurunya anak-anak alias home education. Tapi pun ada banyak hal lainnya yang kami sekeluarga belum pernah jalani atau nyobain, misal nih..hmmm.. let me think (agak susah juga asline mikir apa yang belum pernah kita kerjain, hehe..), oh, I’ve got one.. aku belum pernah bikin cuka apel, atau belum pernah bikin tepung singkong sendiri atau bisa naik kuda tanpa dipegangin. We’re thinking to get horses, actually I ask honey but he said, we’ll break their legs because our mountain homestead is not ideal for horse riding. They are on my list and pasti aku kasih tau kalian kalo aku udah nyobain n sukses nggaknya).

Hampir 6 tahun (bulan depan, inshaAllah, yey!) aku ngoceh mulu di blog greenmommyshop.wordpress dan social media lainnya, untuk sharing tentang sustainability terutama kaitannya dengan perempuan. Kenapa sih aku nulis n sharing? Idenya itu karena aku gemes, karena pada kenyataannya, hidup sustainable itu topic yang susah didekati dan gambarannya kok β€œanggel men!” alias kok susah dilaksanakan untuk kebanyakan orang apalagi wanitanya. Tapi apa iya? Jujur ya, aslinya tuh, ini semua bisa didekati dan bisa kita kerjakan tergantung pada gimana kita menyikapinya alias tergantung pada attitute kita. Tergantung pada attitute kita bisa dirubah nggak? Dan utamanya mau dirubah nggak? Nggak bisa dipungkiri, modernisasi udah bikin kita para perempuan jadi terlena dengan segala hal instant yang ditawarkan. Kita jadi lupa dari mana asal muasal barang. Misal nih, taunya kita, roti itu dari tukang jual roti keliling atau dari supermarket, susu itu dari botol, kentang goreng itu fast food resto atau delivery order. Padahal kalo dulu nih, pisang goreng asalnya dari dapur mbah putri (kalo lagi ada panen pisang), getuk lindri dari dapur tetangga (kalo beliau lagi panen singkong) , telur asin dari kakek, keranjang sampah bambu (minta bikin mbah kakung n kudu motong dulu dikebun bambu pinggir sawah), pengen eksotic weeds yang bisa dimakan asalnya dari rambanan sawah tapi minta temani buyut putri dulu biar nggak salah ambil, ikan dari kali (mancing) dan banyak lainnya yang lebih sustainable cara mendapatkannya.

cookies n zak.jpg

Guampaanngg banget keahlian dan kenyataan ini kita lupakan atau tergelincir begitu saja dari kehidupan manusia, yang kayaknya, cuma dengan melewati beberapa dekade saja semua cara hidup sustainable beserta keahliannya lenyap, gone, deleted, uninstall dari hidup kita (atau mungkin kita belum pernah nginstall juga bisa, atau kita lupa saking banyaknya pilihan sosmed lainnyaa, hehe..). Intinya, kita-kita nih yang tidak dibesarkan dengan pengetahuan dan keahlian tersebut atau cuma punya sedikit pengetahuan dan pengalaman untuk hidup mandiri, terus bagaimana cara kita mulai hidup mandirinya?

Saya kasih tau kuncinya: Hanya dengan membuat perubahan kecil setiap harinya di kehidupan keluarga agar bergerak ke hidup yang lebih sustainable (mandiri), akhirnya kalian pasti bisa sampai ke tempat tujuan alias bisa hidup sustainable (dengan level apapun itu).

stir fry pokcoy.jpg

Mungkin, terutama untuk teman-teman yang tidak punya lahan untuk menanam sumber makanannya sendiri, kalian nggak bakalan memulai bercocok tanam di kebun (sustainable utamanya urusan perut lho yaa). Tapi masih ada cara lain untuk hidup sustainable, alternatif untuk kalian berarti, kalian harus mendukung petani lokal untuk mensuplai sumber makananmu dan kalian juga bisa menghilangkan banyak sampah yang biasanya muncul akibat munculnya rantai pengadaan produk termasuk juga mengurangi penggunaan sumberdaya energi yang tidak bisa diperbaharui yang biasanya tambah banyak karena produk-produk makanan atau apapun yang kalian butuhkan berakhir di supermarket sebelum kita beli. Mungkin juga nih, misal kalian nggak bakal bikin sistem panen air hujan atau water catchment, gantinya, kalian harus menjadi super peduli dengan penggunaan air dan belajar tentang konservasi air. Cuma 2 hal ini saja sudah merupakan hal yang meski tindakannya kecil tetapi akan sangat berharga dampaknya untuk sustainability.

Tuk tambahan agar hidup kita bisa lebih sustainable diluar kehidupan rumah tangga, yaitu di dunia secara global kasarannya, kita juga kudu memikirkan bumi ini, apa yang bisa kita lakukan agar dampak negatif dari keberadaan kita di bumi ini bisa dikurangi?

Akhirnya, dari ngobrol, diskusi (plus bujukin juga sih), karena mikirin gimana biar aku bisa sharing apa yang kami tahu bermanfaat untuk di share dengan orang lain agar kita semua terutama wanitanya bisa bergerak ke hidup yang lebih sustainable, adalah cikal bakal alasan aku nulis. Kami percaya bahwa kita semua bisa melakukan sesuatu untuk bisa hidup sustainable semaksimal mungkin, Aku percaya, kalian para mommies nih bisa belajar masak sehat n lebih ramah lingkungan dari dapur kalian sendiri, atau mengawetkan makanan sendiri, bikin makanan n minuman probiotik sendiri, bikin pembersih rumah tangga n personal care sendiri, and many more. I believe you can if you are willing to learn n to grow, no matter what.

Nah untuk lebih mudahnya membayangkan tentang hidup yang sustainable, mandiri dalam artian pemenuhan kebutuhan dan keberlanjutan hidup kita sendiri (to the fullest), hal-hal di bawah ini bisa membantu kalian untuk memulai:

Tentang Sustainability:

    • Apa itu sustainability?
    • Hidup Sustainable secara total? It’s super great, tapi mungkin kalian nggak ingin sejauh itu.

Tentang Sumber Makanan & Berkebun:

    • Kita semua kudu mulai belajar bercocok tanam dari satu titik. Bagaimana kalau mulainya dari cara menyemai benih?
    • Membuat kebun sayur kita super produktif dengan memilih tanaman yang tepat dan memilih mana-mana yang paling mudah ditanam dengan hasil yang maksimal.
    • Untuk yang sama sekali belum pernah bercocok tanam, cari tahu tentang cara menangani hama, bagaimana memanen tanaman yang ditanam.
    • Masalah tanaman GMO? Termasuk dimana saja si bahan makanan GMO ini bersembunyi di makanan kita?
    • Mana-mana makanan sehat dan tidak sehat (pengen hidup sustainable itu salah satu pondasinya kudu super sehat seperti fitrahnya manusia but not like zombie sehat) :p

Tentang Merubah Kebiasaan:

    • Buat perbedaan dengan perubahan (meski kecil)
    • Kenapa sih kita kudu buang uang untuk beli saos tomat dan saos sambal (bikin sendiri lho bisaaa).
    • Kecantikan itu apalagi buat kita para wanita, asalnya tuh dari nutrisi alias dari apa yang masuk ke mulut, bukan dari botol dan cream mahal apalagi didatangkan dari Luar Negeri, padahal kita bisa cantik n sehat dari dapur lho.. mending, buat produk tuk personal care dan kecantikanmu sendiri.

Seiring waktu, aku pasti nambahin n sharing whatever I have in my mind. Jadi jangan lupa untuk suscribe alias berlangganan di blog ini, biar nggak ketinggalan ya..

breastfeeding.jpg

Yes! I heard Your excuses..

β€œBut you know what? πŸ˜‰ The way won’t change, because sustainability will always starts from you! from me? Noo.. from you! because I’m doing it already, that’s why I said, its from you! Silly!” :-p

Deasi

Super Message for today is:
1. The Green Family Eco-Homestead akan mulai soft opening untuk umum untuk tujuan eco-tourism the genuine one (it will be very different than other eco-tourism places, because this is a family real life you are visiting n enjoying and hopefully you can join us to feel how to live sustainable and maybe it will resonate with you, then take it for your advantage and if its not, you can just put it aside, no hurt feeling).
2. We are also opening our place as Zawiya, “The spiritual retreat for traveller”
We will make fanpages for each purpose so you can feel more comfortable and we can share with you, information according to your interest.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s