Apa itu Sustainability

Kata dasarnya Sustainability itu adalah sustain·able
Dalam konteks ekologi, arti gamblangnya adalah menjaga keseimbangan ekologi, dengan cara bahwa kehidupan manusia yang butuh untuk menggunakan atau mengeksploitasi sumberdaya alam harus tanpa merusak ekologi atau keseimbangan ekologi di daerah tersebut dan sekitarnya.

Asik bener deh kedengarannya, berasa jadi seperti hidup jaman Narnia :-* Well, that sounds like a nice idea, tapii… pada kenyataannya kehidupan di dunia ini tidak seperti itu kan.. apalagi di negara maju dan gimana dengan Indonesia tercinta ini? sama saja.. kitapun berlomba untuk menghabiskan sumberdaya alam tanpa atau dengan kita sadari. Kita nggak hidup sustainable lagi. Pada kenyataannya juga, orang-orang yang tinggal di pedalaman, seperti suku Aborigin, atau di beberapa tempat lain di Indonesia, dan sedikit tempat di belahan bumi lainnya, mereka hidup secara sustainable. Mereka hanya menggunakan sumber daya yang tersedia di wilayah mereka untuk kehidupannya, mereka nggak nyampah, alias nggak buang-buang sumberdaya, mereka peduli dengan keberlangsungan alam karena mereka sangat merasakan keberlanjutan hidupnya bergantung dari alam, bagaimana dengan kita? Menyedihkan kalau membandingkan keberlanjutan kita dengan mereka!

banana harvest
Makan pisang dari pohon pisang yang ditanam sendiri, sampahnya langsung dibuang ke bawah pohon pisang buat pupuk $_$ cheers!

Sayangnya nih, manusia modern seperti kita nggak bisa dengan mudah beralih untuk hidup sustainable, ada terlalu banyak hal yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja dan ada banyak hal yang harus dilakukan, termasuk ada banyak hal yang harus dilupakan (undo). Tapi kita tetap bisa kesana kok, kita tetap bisa mencoba untuk hidup sustainable. Kita cuma butuh untuk mulai. Mulai dari saat ini juga. Right now, sambil ujan-ujan ngeteh minum kopi or teh n nyemil pisang goreng (pikirin gimana yang kita makan n minum itu, next time bisa sustainable sumbernya dan lain2nya). Setiap dari kita terutama setiap keluarga akan memiliki pendekatan sustainability yang berbeda-beda satu sama lainnya. Karena kita semua unik bedanya. Tapi jangan dibikin jadi masalah deh perbedaan ini, pikirin kalau perbedaan ini akan bikin kita semua jadi lebih kaya dengan pengalaman yang berbeda dan jalan menuju sustainability akan lebih mudah untuk semuanya.

Bikin sendiri apa yang kita butuhkan. Susah banget tuk bikin batasan apa aja yang sebaiknya kita bikin sendiri dengan batasan kita jangan jadi gila (don’t worry, you won’t!). Baiknya sih, kita bikin sendiri apa-apa yang penting dan paling sering kita konsumsi dan berhenti bergantung kepada orang lain untuk memenuhi kebutuhan tersebut (atau sebanyak yang kalian bisa without making you going craiizii). Contoh gampanya adalah tentang makanan: siapa yang suka makan bakso? nah, suka pake saos sambal, saos tomat dan kecap? ayo pada bikin sendiri.. pasti deh nggak kebuang. . Contoh serius tentang makanan: Kalau kita terbiasa dan udah terpatri “kebenaran” buat kita kalau makanan itu datangnya dari pasar dan supermarket, apalagi sekarang enak ada delivery, bayangkan gimana kalau suatu hari nanti nggak ada yang bisa dibeli dari supermarket, pasar kosong, yang delivery nggak ada supply tuk bisa dijual. Kita mau gimana? kamu mau gimana kalau hal ini terjadi? Andai kita menanam sumber makanan kita sendiri, atau paling tidak sebagian besar dari sumber makanan kita, kita tidak akan sangat tergantung dari orang lain, belum lagi masalah sehat nggaknya sumber makanan yang kita beli. Kalau kita nanam sendiri, kita nggak perlu khawatir dengan penggunaan pestisida atau tanaman yang ditanam secara tidak organik termasuk pengepakannya dan penyimpanannya sebelum kita beli. Akhirnya? kita bakal lebih sustainable dari segi pengadaan makanan, lebih ramah lingkungan udah jaminan itu (ini nggak termasuk bonus, makanan yang kita tanam sendiri lebih enak lho ya..)

Batasi jumlah sampah yang kita hasilkan. Kedengarannya sepele, tapi hal ini sangat dramatis dampaknya ke keberlanjutan. Masalah sampah jadi penggangu ke keseimbangan ekosistem, belum lagi masalah sumberdaya alam yang digunakan untuk membuat bahan yang jadi sampah tersebut saja sudah super mengganggu ekosistem. Gimana sih tindakan membatasi jumlah sampah yang dihasilkan? mudahnya, adalah dengan mengurangi sampah pembungkus dari segala hal yang kita beli, misal, beli bakso pake plastik (bawa donk rantang sendiri), belanja sebisa mungkin bawa tas belanja reusable sendiri. Jangan terima packaging produk yang berlebihan. Termasuk menggunakan lagi barang yang sudah kita pakai untuk difungsikan lagi (sebisa mungkin jangan jadi sampah dulu). Ini termasuk juga dengan membeli barang secara grosir, biasanya barang grosiran, sampahnya jauh lebih sedirkit daripada beli dikit-dikit tapi sering, karena sekarang nih, semua produk ada wadahnya sendiri-sendiri. Termasuk juga, makan masak sendiri, jangan milih delivery. Kalau pengen makanan dari luar, sekalian aja makan di restoran, jangan pake take away.

Kurangi penggunaan plastik. Susah ya kayaknya, tapi bisa kok, Yuk bayangkan kehidupan 30 tahun lalu, atau lebih jauh lagi, ketika masih jarang bertemu plastik, kita tetap bisa hidup kan..? Kenapa sih kurangi penggunaan plastik? karena plastik nih selain susah di daur ulang, susah terurai, belum lagi, sumbernya dari sumberdaya energi yang tidak bsia diperbaharui lagi yang asalnya dari fosil.

Makan dari sumber lokal. Apa sih maksudnya, sumber makanan kita dihasilkan dari tempat dimana kita tinggal, dan kalau pas tau akan nggak musim, ya kita awetkan sendiri, biar kalau kepingin, tetap bisa makan yang dipingini.

Gunakan lagi barang bekas alias Reuse. Kalau tinggal di kota, dengan mudah kita mikirin Recycle/daur ulang aja deh, ada fasilitasnya, tapi apa kita tahu, untuk menjalankan recycling itu butuh sumberdaya energi dan manusia yang banyak. Kalau tinggal di gunung seperti kami, atau penduduk yang jauh dari fasilitas bisa beli barang lagi kalau butuh, pilihan recycle itu nggak ada, adanya ya kudu bisa di pakai lagi alias reuse. Kenapa juga nggak menggunakan barang bekas untuk kegunaan lain. Lebih bermanfaat jelasnya.

Batasi belanja barang baru. Harus dicamkan, bahwa setiap barang yang nangkring di toko itu dibuat dengan sumberdaya yang besar yang artinya mengurangi atau menggangu keseimbangan ekosistem dimana barang itu diproduksi termasuk kemana barang itu dibawa tentunya. Jadi, sebaiknya kita pilih, cuma beli barang ketika kita super butuh dan barangnya berkualitas alias bisa tahan puluhan tahun (nggak termasuk baju dan sepatu donk ya..). Belanja barang second hand atau dapat lungsuran atau menerima barang bekas juga adalah pilihan lainnya.

Buat pilihan yang lebih sehat (terutama pilihan untuk makanan dan kecantikan). Mungkir nggak masyarakat kita dengan fakta bahwa cintanya dengan makanan nggak sehat itu lebih besar dari cintanya ke diri sendiri? Karena buktinya, sebagian besar dari kita nggak bisa lepas dari camilan nggak sehat, makanan yang diproses berlebih, makanan berpengawet, makanan yang menggunakan bahan kimia sintetis dan berpengawet sintetis. Enak? tentu rasanya enak. Sehat? Pasti nggak. Ini cuma kaitannya dengan sehat, bagaimana dengan kaitannya ke sustainability? Untuk bikin makanan-makanan junk food itu butuh banyak sumberdaya alam dan energi juga lho. Belum lagi packaginnya. Kalau kita nyemilnya dari panenan disekitar kita, pasti deh bumi ini lebih sehat, termasuk kitanya juga bakal lebih sehat. Bagaimana lagi halnya dengan kecantikan? Sama aja dengan makanan. Wanita dan kecantikan nggak bisa dipisahkan. Kecantikan itu adalah food for woman’s soul. We feel happy when we are beautiful (you can’t deny that), nggak peduli seperti apa batasan kecantikan kita yang pastinya berbeda-beda. Dan untuk merawat kecantikan, sama dengan makanan junk food, produk perawatan kecantikan pun rata-rata berbahan kimia sintetis dan banyak yang berbahaya. Bukan kesehatan kita saja tantangannya, untuk bumi ini, sangat nggak sustainable kalau tuk bikin cream wajah harus memakai sumberdaya alam dan manusia yang sangat besar. Karena harus dibuat sedemikian ruwet agar memuaskan kebutuhan cantik kita yang nggak ada habisnya.

Sederhananya, buat aku, Health, Beauty n Sustainability sangat terikat satu sama lainnya.

Kalau kamu?? Hidup sustainable itu seperti apa sih?

Deasi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s