Food sustainability itu bisa dicapai

Seiring hari bergulir di eco-homestead kami, hal yang paling sering menjadi tantangan bukan alamnya, tapi kebiasaan dan keinginan kami sekeluarga untuk tetap hidup sehat, untuk tetap mengkonsumsi the most suitable nutritious food for our needs tapi is it sustainable? Yang paling sering bikin kita patah hati ya honey bunny sweety. He will say something like this “We will have to stop eating this or that, because we can’t grow here in our farm or that can’t be produce here around Malang”. Kalo anak-anak kita, mereka meski sekritis ayahnya (alias suka protes sama makanan yang nggak sustainable), tapi masih bisa dibujuk sama how yummy is the food πŸ˜› (naught mommy n mimi!) Well, siapa sih yang nggak cinta mati sama makanan enak?

sandwich feta.jpg
Sandwich Keju Feta, I don’t know if I will give up on this, or us @_@ (not so sustainable, masih pake tepung terigu meski duikitt)

Intinya tuh, our honey is right. Beberapa kebiasaan makanan kita nggak sepenuhnya sustainable. Misal nih, kita nggak bisa nanam padi sendiri di gunung sini. Meskipun kita bisa dapat beras organik lokal seperti selama ini. Ide untuk bisa sustainable sepenuhnya buat kami itu super duper cool n the best. Tapi mungkin buat sebagian besar dari kalian, hal semacam ini bukan sesuatu yang ingin kalian capai. That’s fine. Dari hari ke hari, pola makan kita berubah menyesuaikan dengan ketersediaan yang ada di farm. Dan kita berencana untuk bisa makan hanya dari apa yang tumbuh dan bisa dipanen dari farm (that is including excess of eggs and animals!) I’m sorry for my vegan friends, Kita suka banget mengkonsumsi sebanyak mungkin sumber makanan dari tanaman, but, I’m talking about part of sustainability. Dan mengkonsumsi pangan hewani itu part of our survival (kalo sudah nggak bisa memungkinkan nggak ada tanaman atau hewannya udah harus dikontrol populasinya). Intinya, dengan mengubah kebiasaan makan saja, kita bisa super mengurangi dampak ekologi dari produksi/penyediaan makanan kita.

casava bread.jpg
100% Indonesian flour bread (tanpa terigu sama sekali)
stir fry pokcoy.jpg
Stir Fry Pokchoy & lots of onion dari Malang aja..

Coba kita bikin simulasi kondisi kalau pasar atau supermarket itu nggak pernah ada atau nggak ada supplai sama sekali (mungkin kalian nggak bisa ngebayangin, tapi ini penting lho.. ketidaktersediaan pangan sudah terjadi dimana-mana selama manusia hidup di bumi. Simulasinya gini, bangun tidur, kita kan lapar, yang duluan kita lakukan berarti, pergi keluar rumah (bukan buka kulkas dan cari makanan atau mulai masak ya!). Kita ke taman dulu, atau keluar ke kebun, cari apa-apa yang bisa dipanen, misal kalau pingin bikin ayam woku blanga, berarti kalian kudu ke kandang ayam, cek-cek apa ada ayam yang bisa disembelih, trus ke kebun nyari sereh, daun kemangi, daun jeruk, daun pandan, bawang merah, dll.. (ngerti maksudku kan ya..). Misal nih kalian pengen bikin cinnamon bun.. atau roti coklat lah.. ini mah malah nggak masuk akal bisa jadi dalam sehari.. @_@ Kalian pasti bisa jadi gila.. Semua contoh diatas itu dengan kondisi kalau kalian punya kebun lho ya. Misal kalian nggak punya apa-apa, pasti kalian untuk makan saja kudu keluar melanglang buana nyari bahan-bahan tersebut. Kalian pasti mikirin, ngapain juga mo nyobain hidup kayak masa hunter or gatherer/forager seperti orang jaman dulu (by the way, ibu saya masih sempat mengalami masa-masa foraging/hunting lho.. meski kakek punya kebun dan sawah yang luas, dan ternak juga, tapi tetap saja, sebisa mungkin ibu dan adik-adiknya akan pergi keluar rumah setiap harinya tuk nyari tanaman liar dan cari ikan di sungai untuk tambahan makanan, terutama ketika tanaman musim yang waktu itu sudah mulai menanam padi lagi belum panen). Kalau kita sekarang, is that possible? kayaknya nggak mungkin ya.. Kalau nggak mungkin, berati apa solusi nyata kita?

casava bread africa.jpg
The STAR! casava bread sandwich made from scratch in our kitchen

Sustainability makanan itu bisa dicapai, dan dibawah ini aku kasih tau kuncinya. Tapi bagaimana caranya? terutama untuk teman-teman yang tidak punya lahan untuk menghasilkan sumber makanan sendiri?

garden baked.jpg
From the Garden Baked Goodies, Yum!

Satu hal yang SUPER PENTING! adalah cari sumber makananmu secara lokal. Maksudnya? belilah apa-apa yang bisa ditanam dan dihasilkan di daerahmu sendiri (bukannya misal ketersediaan pisang chavendish atau jeruk dari Cina yang di supermarket lokal lho ya..). Beli beras dari petani Malang, beli minyak kelapa dari pengrajin minyak kelapa Malang, beli susu kambing dari peternakan di Malang, atau lebih melebar ke area lain di sekitar Malang, dst. Karena dengan mendukung petani, peternak dan pengrajin lokal, kita bisa dapat jaminan ketersediaan pangan yang lebih sehat dan pasti-pasti adanya dan mereka akan lebih care/peduli dengan kita juga akan keberlangsungan usaha mereka, ini semua karena kita kenal mereka, dan mereka tahu mereka dibutuhkan langsung. Bukannya seperti sekarang, jarang dari kita yang tahu, siapa yang nanam bayam, dari mana asal ayam buat ayam goreng kita, dst. Karena kita nggak tahu, para penghasil ini juga malas peduli sama kita, dan mungkin kita nggak tahu juga kalau mereka malah ngejual produknya ke luar negeri atua keluar daerah karena merasa tidak ada pasar di daerahnya, tragisnya ya seperti ini kenyataannya saat ini. Dengan membeli dari penghasil lokal, secara otomatis kitapun berkontribusi langsung ke penguranggan penggunaan sumberdaya alam termasuk penggurangan sumber energi yang tidak bisa diperbaharui karena penggunaan bahan bakar untuk menyediakan sumber makanan hingga masuk ke plastik di supermarket atau dibawa ke pasar.

pisang goreng.jpg
Pisangnya dari farm, vanila organiknya dari jawa, tepung singkong dari Ladang Lima, pati garut dari Jogja, gula organik dari Semarang, whew!
mint tea.jpg
Mint Tea dari Aquaponic

Dan untuk teman-teman yang punya akses menghasilkan sumber makanan sendiri, biasanya kitapun terbatas akan apa-apa yang bisa kita hasilkan. Jadi untuk bisa tetap makan dengan cara yang lebih sustainable, kita kudu milih-milih nih, bahan makanan apa yang tidak bisa kita hasilkan, kita cari secara lokal atau beli grosir biar nggak banyak sampahnya, menyederhanakan makanan juga adalah salah satu jalan untuk bisa sustainable dalam hal makanan. Be Wise with YOur BUying CHOICE!

wheat free panckage.jpg
Wheat Free Panckage (not so sustainable, oatsnya dari Australia, Almond dari Luar juga, kelapa kering dari Malang, strawberry Malang, kayu manis Sulawesi, gula organik Semarang, still whew whew, but its sooo yummmyy!! makannya di Malang kota.

Sekarang yang jadi PR kalian: Apa tujuan usaha untuk kemandiriaan sumber makananmu? Kamu mau yang sustainable atau cuma sekedar mengurangi dampak kerusakan ke bumi saja?

kangkung harvest.jpg
Panen Kangkung segini nih bisa tiap hari, kalo lagi waktunya panenlah (tapi kalo cuma pengen kangkung, tiap hari juga ada, sipp!).. yang foto ini, kita bikin homemade pecel from scratch!
If you follow me, kalian nggak boleh bikin opsi nggak melakukan apa-apa atau nerusin masalah konsumsi pangan yang nggak sustainable lho yaaa…!
Let me hear you!
Deasi
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s