Hidup di bumi yang rusak

“Read it, please. Straight through to the end. Whatever else you were planning to do next, nothing could be more important.” ―Barbara Kingsolver

Eaarth: Making a Life on a Tough New Planet

That new planet is filled with new binds and traps. A changing world costs large sums to defend―think of the money that went to repair New Orleans, or the trillions it will take to transform our energy systems. But the endless economic growth that could underwrite such largesse depends on the stable planet we’ve managed to damage and degrade. We can’t rely on old habits any longer.

Our hope depends, McKibben argues, on scaling back―on building the kind of societies and economies that can hunker down, concentrate on essentials, and create the type of community (in the neighborhood, but also on the Internet) that will allow us to weather trouble on an unprecedented scale. Change―fundamental change―is our best hope on a planet suddenly and violently out of balance.

Cuplikan tentang kondisi bumi yang sudah carut marut dan rusak dari buku di atas sebenarnya sudah sangat gamblang mencerminkan seberapa mendesaknya untuk kita semua yang tinggal di bumi ini agar melakukan sesuatu, sekarang juga menuju sustainability! Bukan besok, bukan nunggu ada yang ngajak, bukan nanti kalau ada event, tapi sekarang juga!

earth condition1.jpeg

Kita butuh melakukan perubahan-perubahan yang super drastis dalam menjalani kehidupan ini alias atas cara kita hidup. Kalau kita mau bumi ini masih layak huni hingga anak cucu kita nanti (bangunan tidak layak huni aja bisa dihancurkan pemerintah, apa kita mau bumi yang nggak layak huni ditempati?)
earth condition2.jpg
Kalau kalian liat kenyataan kondisi bumi tentang kekeringan, hujan berkepanjangan dan nggak tepat musimnya, Alaska yang lebih hangat dari sebelumnya, orang-orang Inuit ngasih warning ke kita tentang perubahan iklim, bencana alam dimana-mana. Ini semua ada kaitannya dengan kondisi bumi yang semakin parah karena ketidakseimbangan ekologinya. 

Nggak bisa dipungkiri lebih banyak manusia yang keras kepala dengan kenyataan ini, mereka masih bermimpi dan bercita-cita untuk bisa beli mobil dan ngantarin anak ke sekolah pake mobil. Atau setiap liburan kudu keliling dunia atau plesir ke negara lain. Apapun itu mimpi kalian, mimpi kita, Perubahan Iklim Global itu sudah disini, alias sudah terjadi dan seperti efek bola salju, semakin lama semakin parah karena nggak diobati, solusi yang ada kurang berarti.

Batas-batas ambang kualitas udara dan air saja setiap tahun meningkat pesat, pedulikah kita dengan dampaknya ke kehidupan ini? sementara kita komplain saja dengan masalah kesehatan. It’s all connected, semuanya jadi satu rantai yang sama. Kita-kita yang tau dan melakukan perubahan apa cukup? TIDAK! sangat tidak cukup! sulit untuk merubah keadaan bumi dengan perubahan atas segelintir orang saja. Kalau gitu kita-kita berhenti saja.. (that’s way more stupid!). Kita butuh perubahan yang lebih besar, butuh perubahan sikap, butuh kemauan untuk berubah, butuh semuanya untuk berubah.

Kita butuh berubah ke kehidupan yang lebih sustainable. Kita harus mau hidup agak atau nggak nyaman agar kita bisa melakukan sesuatu untuk perubahan bumi ini. Yang pada takut cacing kudu nggak nyaman juga rasanya, tapi harus belajar bercocok tanam dan geli-geli takut kalo ketemu cacing tanah, but it’s okay! its better that way!. Belajar memilih yang kita butuhkan ketimbang yang kita inginkan.

Balik lagi ke buku di atas, faktanya, kita nggak bisa lagi menghijaukan Hutan Hujan kita, alias hutan tropis, kita nggak bisa lagi bikin antartika beku seperti dahulu kala, tapi kita masih bisa mencari cara-cara baru untuk hidup di alam yang sudah seperti ini keadaannya tanpa memperparahnya lagi. caranya? Ya hidunya kita harus sustainable semaksimal mungkin. Kurangi konsumsi, bikin segala sesuatu sebisa mungkin sendiri dari rumah, beli produk lokal saja dan banyak hal lainnya.

Apa aku ngomongnya bikin patah hati? kok bukannya memotivasi dengan membuat bahagia malah bikin orang ketakutan dan jadi benci mungkin? You know, the truth is UGLY! Gimana bisa aku molesin TPA dengan essential oil dan dikasih chocolate glazing trus pake cherry on top? Nooo!! kita butuh melek melihat kenyataan yang nggak enak ini. Kita nggak butuh termotivasi secara manis. It’s live or die. That what sustainability is about! But you know. Dengan kalian tahu jeleknya kondisi yang ada, most likely, kalian akan berbuat sesuatu untuk kehidupan kalian, untuk kehidupan kita semua.

Bukankan hidup itu untuk kebaikan?

Deasi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s