Ramadhan Journal + Tips Zero Waste hari ke 15

Jangan buang sampah organikmu, komposkan di rumahmu sendiri!

Kalau mau dibilang apa kami sekeluarga sudah terbebas dari tidak membuang sampah sama sekali ke TPA? Jawabnya, kadang masih ada titipan ke TPA hingga 2 bulan yang lalu. Alhamdulillah sejak tahun 2009, kami nggak menyumbang TPA lagi, semua sampah organik bisa kami manage di rumah kota. Dan sejak tahun 2013 sampah organik GMS sebagian sudah bisa kami tangani baik dikomposkan di Eco Farm kami ataupun dikomposkan di GMS. Kalau dipersentase, sekitar 5% sampah organik kami keluar, itu pun dengan ada saja yang kurang disiplin, memassukkan sampah organik ke tempat sampah yang tidak bisa direcyle dan harus dibuang ke TPA.
We’re working hard on it!
Not perfect but it’s in our mind everytime our family and our business consume product with organic waste as a result.

Kalau dibilang mengomposkan sampah organik kita sendiri itu hal yang baru, nggak juga.. Praktek ini sudah berabad-abad dilakukan manusia dengan cara yang berbeda-beda, baik mereka sadar atau tidak sadar.

Buat kami sekeluarga, perjalanan mengkomposkan sendiri sampah organik kami itu lumayan juga tantangannya, mulai dari mengangkut kelebihan sampah organik dari GMS dan rumah tangga ketika tidak mampu dikomposkan ke farm yang jaraknya sekitar 25km dan harus diangkut dengan pick up sampai mencoba berbagai bahan yang terlihat sampah organik apa memang organik dan bisa terdegradasi atau tidak. Mainan sampah sudah jadi keseharian kami dan anak-anak. Apalagi mereka yang di farm, tiap beberapa minggu sekali akan membongkar koleksi timbunan sampah yang dikomposkan untuk media tanam, ada aja yang ditemukan dengan cara “eker-eker” pake tangan, segala hal baru yang terbukti susah dikomposkan atau jadi tahu berapa lama akan jadi kompos.

Fakta
“volume sampah yang dihasilkan masyarakat seluruh Indonesia mencapai 200 ribu ton per hari. Sebanyak 30 ribu ton merupakan sampah nonorganik atau plastik. “Namun, dari jumlah itu yang dapat didaur ulang hanya 10 ribu ton saja,”.

“50-70% sampah harian yang kita hasilkan dari rumah tangga adalah sampah organik”

“Sebagian besar Ibu-ibu geli dan masih jijik dengan bayangan mengelola sampah!, padahal komposter kalau dikelola dengan baik nggak ada baunya lho, dan baunya ya bau tanah ^_^” 

“Sebagian besar sampah rumah tangga di Indonesia kurang begitu dimanfaatkan dan cenderung diangkut ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS) dan Akhir Tempat Pembuangan (TPA). Faktanya, hanya sebagian kecil dari sampah rumah tangga yang dikonversi menjadi komoditas yang memiliki nilai ekonomi lebih, sebagai contoh hanya 7,15 % dari sampah yang terkumpul dikonversi menjadi pupuk. Implikasinya, kebanyakan sampah dikirim ke TPA, sekitar 60% dari TPA di Indonesia akan mencapai batas kapasitas maksimum pada tahun 2015 (Kementrian Lingkungan Hidup, 2008b)”.

“TPA di Indonesia diperkirakan mengeluarkan gas metana (komponen utama biogas) dalam jumlah besar. Jumlah metana yang dihasilkan dari sampah organik di tempat pembuangan sampah di Indonesia bisa mencapai 1.581,74 ton per tahun (Mediana dan Gamse, 2010). Hal ini menunjukkan bahwa sampah organik rumah tangga seperti sampah makanan memiliki hasil produksi yang besar untuk digunakan sebagai sumber energi”.

“Volume sampah Kota Malang per hari mencapai 640 ton. Dari jumlah itu, hanya 420 ton yang terangkut ke TPA Supit Urang”.

Cara penanggulangan sampah organik yang sudah kami coba di kota maupun di farm selama 11 tahun terakhir:
1. Keranjang Takakura
Saat ini cara komposting untuk rumah kota yang paling mumpuni dan bisa dibilang nggak bermasalah sama sekali adalah “Sistem Keranjang Takakura”
Plusnya:
1. Nggak ada bau
2. Nggak ada belatung (kalau sudah pintar memakainya)
3. Panen relatif cepat sekitar 1 minggu
Minusnya:
1. Kurang cepat jika sampah organiknya banyak
2. Harus menyiapkan bahan keringan untuk aerasi dari daun, kulit padi, atau sampah kering lainnya

2. Worm Tower
Cara ini paling asik untuk yang punya taman/kebun kota
Plusnya:
1. Langsung jadi kompos dan jadi sumber makanan cacing di taman
2. Tidak menimbulkan bau
Minusnya:
1. Jika lupa menutup towernya, bisa jadi sarang tikus

3. Worm Bin/Composter Cacing
Plusnya:
1. Paling cepat mengomposkan sampah organik
2. Bisa mengomposkan kain serat organik dalam waktu 1 minggu
3. Tidak berbau
4. Bisa panen pupuk cair dan worm casting yang bernutrisi super
Minusnya
1. Cacingnya sensitif dengan perubahan suhu dan apa yang masuk ke tempat sampah bisa mati atau melarikan diri
2. Tidak semua sampah bisa masuk, seperti keluarga jeruk, keluarga bawang-bawangan
3. Rajangan sampah harus sehalus mungkin (biasanya aku pakai food processor, jadi nggak hemat energi deh).

4. Black Soldier Larvae Composter
Yang satu ini bisa dibilang, cara pengomposan yang bisa menghasilkan sumber protein!
Plusnya:
1. Panen sumber protein ulat besar untuk pakan ikan dan ayam
2. Mereka suka dengan sampah basah yang berair dan sudah basi
Minusnya:
1. Jika belum pintar, composter ini bisa bau dan tidak mengundang black soldier larvae
2. Tidak semua orang berani memegang dan memanen ulat yang mau masuk ke tong panen dengan sendirinya, apalagi besar dan glinuk-glinuk, alias gemuk-gemuk.

5. Compost Heap Alias Composting segunung!

Komposting satu ini tidak kami lakukan di rumah kota karena perlu lahan yang lumayan besar. Yang kami lakukan adalah membuat kotak permanen dari semen yang bisa menampung sebesar 1 ton sampah organik.
Plusnya:
1. Bisa mengomposkan sampah organik apapun termasuk sampah organik yang lebih susah dikomposkan (kecuali kayu).
Minusnya:
1. Karena isinya banyak, lama pengomposannya bisa memakan waktu minimal 2 minggu hingga 1 bulan, terkadang hingga 3 bulan tergantung apa yang dimasukkan.
2. Maintenance tidak ribet alias tidak perlu dibalik-balik.

Dibawah ini komposter di rumah kota kami:
Saat ini kami menggunakan 5 keranjang takakura, dengan volume sampah dari produksi Green Mommy Shop (kami mencoba mengkomposkan sendiri dilokasi produksi) dan sampah dari rumah tangga kami yang tinggal di kota.

compost1

compost3.jpg
Sebagian dari komposter di rumah
compost2.jpg
Kompos hasil Keranjang Takakura
compost4
Sampah-sampah ekstra terutama dari GMS yang harus dikomposkan di Farm

Solusi Zero Waste Sampah Organik
1. Upcycle/jadi bahan makanan lainnya untuk manusia (cek apa sampah organik itu sudah tidak bisa dijadikan makanan?, karena pada kenyataannya, 1/3 dari sampah organik kita adalah bahan makanan yang masih bisa dikonsumsi!)
2. Sebagai bahan makanan ternak dan hewan peliharaan
3. Dikomposkan dengan Keranjang Takakura atau dimasukkan ke worm tower atau ke worm bin (composter cacing) dan bisa juga sebagai alas grow bed
4. Dibuat jadi Enzyme Cleaner
5. Dibuat jadi cuka
6. Dibuat jadi pupuk cair

kompos copy.jpg

Ber Zero Waste dengan Sampah Organik dari Rumah
Refuse
1. Tolak untuk membuang sampah organik ke TPA
2. Tolak untuk membuang sampah organik ke sungai atau tanah kosong

Reduce
1. Kurangi jumlah sampah organik yang dihasilkan rumah tangga dengan cara mencari alternatif penggunaan sampah selain dikomposkan.

Refill
1. Pastikan komposter yang dirumah dipelihara, direfill isinya dengan sampah baru jika sampah yang lama sudah terkomposkan ya.. (ini ide refill yang aneh deh!).

Reuse
1. Gunakan sampah organik baik upcycle atau downcycle.

Rot
1. Pastikan untuk mengomposkannya jika sudah tidak ada solusi lainnya (alias kehabisan ide).

Mengomposkan sampah sendiri itu menyenangkan, tapi mungkin akan terlihat sulit jika kalian baru akan memulainya. Yang perli diperhitungkan untuk memulainya:
1. Liat sampah organik apa saja yang keluar dari rumah.
2. Berapa banyak hasil sampah organik setiap harinya
3. Dari hasil analisa diatas, kalian bisa memutuskan mencoba komposter yang mana.
4. Buat sistem manajemen sampah dari dapur hingga komposter harus dipanen secara sederhana, bila perlu buat panduan dengan gambar ditempel di dinding dapur dan di atas komposter.
5. Pastikan untuk disiplin

And…
Happy Composting Girls! ^_^

Deasi

ps: Yang ingin nyobain sistem keranjang takakura, bisa liat-liat video youtube dari kami disini: Messy Green Mommy You Tube Channel

Sumber:
http://nationalgeographic.co.id/berita/2015/03/manfaatkan-sampah-organik-di-lingkungan-anda
http://sampahmasyarakat.com/2016/03/21/statistik-sampah/
http://suryamalang.tribunnews.com/2017/03/30/tidak-semua-sampah-terangkut-ke-tpa-supit-urang-kota-malang-ini-penyebabnya
http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/16/04/12/o5iwdp334-indonesia-hasilkan-200-ribu-ton-sampah-per-hari
http://kominfo.jatimprov.go.id/read/umum/beban-sampah-kota-malang-capai-650-ton-per-hari
https://greenmommyshop.wordpress.com/2010/07/12/garden-updates/
http://ypbbblog.blogspot.co.id

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s