Peran wanita, ibu dan dilema feminisme modern

Sudah lamaaa banget nggak curhat.. πŸ™‚
Jadi malam ini aku edisi curhat yang menurutku sangat penting tetapi akan penuh kontroversi..

Nggak bisa ditahan-tahan lagi.. tar jadi angin lalu deh..
Curhatan ini sebenarnya sudah kupendam sejak 11 tahun yang lalu..

Be aware!

Tulisan tentang peran wanita dan ibu ini tidak berlandaskan agama Islam saja, dan aku nggak bisa memberi kutipan dari sudut agama, karena aku tidak berkompenten dengan ilmu tersebut. I’m just a lay person, not an alim. Tetapi bahasan ini buat aku sangat penting, karena kondisi peran wanita sebagai istri dan ibu semakin lama semakin menyedihkan, dengan adanya gerakan feminisme.

Gerakan feminisme hingga saat ini sudah sangat merusak tatanan keluarga dalam masyarakat. Para wanita lebih memilih peran yang sangat kacau balau alias messed up!

Untuk teman-teman yang sudah lama menikah, kalian pasti tahu, kalau wanita itu adalah tonggaknya keluarga. Wanita yang menjaga keluarganya, mendidik anak-anaknya, mendukung suaminya dengan cinta dan dedikasi, istri dan ibu seperti ini inshaAllah akan bisa membangun keluarga and inshaAllah will please Allah, tetapi wanita yang tidak menjaga keluarganya dan tidak berperan selayaknya istri dan ibu dengan semaksimal mungkin, bisa menghancurkan keluarga.

woman submition.jpg

Aku bicara dari hati, dari pengalaman, dari pengamatan
Kenapa sih wanita diciptakan oleh Allah?
Allah creates everything with the Divine order.
Termasuk diciptakannya Pria dan Wanita, Suami dan Istri, Ayah dan Ibu.

Wanita itu sejatinya bukan saja diciptakan untuk melahirkan generasi penerus, tetapi untuk menciptakan generasi penerus yang berbudi luhur, yang bertaqwa, the one that will be a decent human being that Allah will be happy upon him.

Kita sebagai wanita tidak diciptakan untuk menjadi kepala keluarga.

Tetapi untuk membantu kepala keluarga membawa keluarga to please Allah. To fulfill Allah’s plan.

Perempuan itu bukan pembantu.
Perempuan itu bukan budak lelaki.
Dan perempuan sebenarnya tidak ditindas karena menjalankan tugasnya sebagai istri dan ibu rumah tangga semaksimal mungkin dengan dedikasi dan cinta tanpa kenal lelah.

Sebenarnya, Allah punya rencana yang sangat indah untuk kemanusiaan, untuk keluarga dengan dijalankannya peran ibu secara maksimal.

Kita selalu bisa berdiskusi, membuat keputusan bersama dengan suami, memberinya ide, with love and respect
We are here to empower our husband to help him to achieve the family’s mission

Sekarang para wanita ingin punya suara yang sejajar dengan pria
Ingin mengepalai keluarga dan berbagi peran 50:50.
Tidak ada 2 kepala keluarga dalam 1 keluarga
(kapal aja bisa tenggelam kalau nahkodanya ada dua, atau bayangkan mobil dengan 2 supir?)
Cuma ada 1 kepala keluarga saja, yaitu sang suami bukan sang istri!

Tetapi pada kenyataannya, rata-rata rumah tangga saat ini dikepalai oleh para istri, para wanitanya! Sang suami akan patuh dan merelakan dengan sadar atau tidak sadar, karena terlalu sibuk dengan kegiatan mencari nafkah.

Woman is the servant of Allah just like the man.

We serve and take full responsibility and take care of our family, raise and educate our children and cook and clean and so many other stuff to do as wife and mom is solely is to please Allah, because of our love to Allah. Because we believe in His divine order.

Unlike us, our order create chaos in humanity.

Pada kenyataannya tidak semua wanita ditakdirkan untuk menjadi ibu.

Tetapi jika kita ditakdirkan menjadi ibu, kita bertanggungjawab atas anak-anak kita. We can’t be selfish anymore. We are responsible to raise them to be a decent human being, who will make the society strong and healthy. To be human being that will serve his purpose to please Allah.

Semakin hari semakin banyak wanita yang memilih untuk berkarir, beraktifitas di luar rumah.

Ruman-rumah yang seharusnya dijaga oleh para istri, para ibu, menjadi kosong, dan anak-anak mereka dikirim ke sekolah, dididik oleh orang yang tidak setulus orang tuanya sendiri untuk mendidik dan membesarkan mereka, dijaga oleh orang yang tidak seberapa tertarik dengan perkembangan budi pekerti dan skill mereka.

And what do we get as modern woman?
What feminism bring?
Unmatured adult
Kids with problems
Dan masih banyak dilemma social lainnya, yang dengan mudah bisa diobati dengan kembalinya para ibu ke rumah, menghabiskan waktu dengan anak-anaknya, mendidik mereka sendiri, memasak dan menyiapkan makanan sehat, memastikan mereka tidak terkontaminasi dengan hal buruk and to support the husband to lead the family in order the reach the family’s goal.

Banyak wanita sudah dibrainwash kataku.. (sadar atau tidak sadar!)

Dengan iklan, dengan pendidikan, dengan segala hal disekelilingnya. Salah satunya adalah isu kebahagiaan. In a way, woman choose to work outside, because it brings them β€œhappiness n status to make them happy” tapi ini hanya kamuflase, hanya kosmetik belaka.

Many Woman are so selfish, fake and unrealistic with life.

Tapi pun karena mereka tidak tahu pentingnya peran mereka sebagai ibu, sebagai istri.

A real man doesn’t put her wife first
But Allah first
Β 
And a real woman will submit to her husband to please Allah and in order to support her husband to create a family and generation that Allah will be pleased with.

Seringkali aku ditanyain;
Semuanya kamu kerjain sendiri?
Nyuci, ngepel, masak, homeschooling the kids, take care of the house, keep the house clean and organize, belanja ke pasar?
Apa suamimu nggak ngebantuin?
Kenapa nggak nyari Asisten aja? (Ini ketika jaman belum punya cowife) pun hingga sekarang, beda lagi situasinya..
Kenapa nggak manggil guru aja untuk ngajar anak-anak?
Kenapa nggak nyewa suster tuk jagain si kecil?

Wanita saat ini lebih memilih untuk menjalankan karirnya meski menikah, because they are brainwash by the feminism.

For me
Woman’s place is at home
To take care of the house
To raise and teach the kids
To support and help the husband

Alhamdulillah, suami dengan kesibukannya selalu membantu, apalagi ketika anak-anak masih kecil, mulai dari ngejagain anak-anak ketika mereka nggak bisa aku tinggal masak, atau ngajak jalan-jalan sore (menemani mereka bermain).

Bukannya aku nggak mau dibantuin, tapi aku nggak mau, beliau yang sudah menghadapi segala hal yang banyak tantangannya di luar rumah masih harus terbebani dengan banyak hal lain ketika pulang dari kerja.

Belum lagi aku dikatakan bodoh dan mengambil keputusan yang salah karena memilih menjadi ibu rumah tangga dan meninggalkan karir. β€œAku bisa saja besok-besok akan bekerja lagi, meneruskan hobi, bahkan berkarya diluar rumah dan diluar tugas sebagai ibu ketika anak-anakku sudah beranjak dewasa, tetapi saat ini, saat mereka sangat membutuhkan didikan kami para orangtuanya, aku nggak bisa egois”. Rumah adalah tempatku, dan pun jika harus berkarya, rumah adalah tempat berkaryaku.

Sekali lagi!
Tidak semua wanita ditakdirkan untuk menjadi ibu, tetapi jika kamu ditakdirkan menjadi ibu, Kamu yang harus membesarkan anak-anakmu, bukan sang kakek nenek, bukan pula para suster dan pembantu rumah tangga.

And
We’re going to respect our husband to be the leader
We’re going to give him the place to be the leader and protector of the family
By submitting to our husband, we let him to do what he destined to do, in order to fulfill what Allah destined for him and for the humanity.

So what’s Allah’s beautiful order that we will ignore?
To only later create chaos in humanity?

Deasi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s