Ramadhan Journal + Tips Zero Waste hari ke 22

Hari ini, kita akan membahas tentang:
“Mengkonsumsi lebih banyak makanan nabati dan mengurangi makanan hewani”

Kalian
nggak perlu jadi raw foodie
Nggak perlu jadi vegan
Tapi
Kita semua harus beralih ke pola makan minim hewani dan maksimal nabati.

Kenapa?
Karena untuk memproduksi sumber pangan hewani, butuh sumberdaya yang sangat besar, baik lahan, air, hingga pengolahan limbah, pendingin, packaging, transportasi hingga ke tangan kita.

Saking besarnya sumberdaya yang dibutuhkan, hingga PBB mengeluarkan himbauan agar manusia di bumi ini mengadopsi pola makan VEGAN!

eat meat vs vegan.jpg

comparing carbon foot print

eat for planet.jpg

Untuk mereka-mereka yang sudah terbiasa mengkonsumsi sedikit pangan hewani, berusaha menguranginya lagi bukan hal yang sulit, tetapi untuk teman-teman lainnya yang setiap harinya mengkonsumsi pangan hewani, tuk mengurangi pangan hewani bukan hal yang mudah, “Bagaimana bisa aku hidup tanpa mengkonsumsi hewan?”

Katakanlah kalian paham dengan masalah lingkungan dari hasil konsumsi hewani
Katakanlah kalian sangat mengerti dengan dampak kesehatan dari pangan hewani
Katakanlah sangat masuk akal kalau pangan hewani itu mahal!

Tapi…
Makan sayur itu kan nggak enak!
Makan sayur itu bikin nggak selera makan kalau nggak ada ikan atau dagingnya..!

Truth to be told!
Pangan nabati itu bukan lalapan aja lho.. bukannya jadi kambing..
Pangan nabati itu punya berbagai rasa, bentuk,
dan super jauhhhh banget dari…..
“Tiap hari lalapan aja”
“Mati pasang sayur asem atau sayur bening”
“Paling banter nyambel tempe”

Let me tell you our story
Sejak kecil aku pikir konsumsi makananku udah sehat (less meat, karena nggak suka, pilih ikan n super suka sayur, jus dan raw salad). Aku nggak ngerti apa namanya Raw Food, Vegan, Vegetarian, (aku ngertinya, ada salah satu customer tetap restaurant ibuku yang di Manado, tiap hari belinya sayuran mulu sama nasi doang, nggak pernah sekalipun beli yang ada ikan atau meat), kasiannya, dia suka jadi bahan becandaan sama staff-staff ibuku (not me!). Aku jadi berpikir, apa yang bikin dia jadi suka banget makan sayur aja ya..? bahkan ikanpun nggak! Ada lagi teman kuliahku, Mitha juga nggak mengkonsumsi hewani karena alasan religi. Tapi begonya aku, I’m just wondering tanpa mau cari tahu. Mereka-mereka ini nggak suka sharing kenapanya, kalau ditanya jawabnya sangat singkat yang bikin orang cuma, “oooo begitu” tanpa tergelitik untuk menggali lebih dalam. Beda banget sama jaman sekarang.. dengan senang hati kita cuit-cuit tentang kelebihan setiap diet.

Keluarga kami memulai pola makan banyak sayuran karena motivasi kesehatan dan lingkungan. Tadiya sempat Raw Food bertahun-tahun, kemudian jadi raw dan vegan cook dan kemudian sampai sekarang jadi raw-vegan-vegetarian mencari balance untuk kebutuhan keluarga mulai dari ibu hamil-menyusui, bayi hingga remaja hingga yang diatas 50thn! Sampai kangen sama food imprint banyak budaya untuk yang sudah orang tua dan food imprintnya kadung terbentuk dan ada juga yang sudah di rubah (but we keep trying), mulai dari yang suka kangen dengan bubur Manado dan rica roanya (sampe sukses bikin versi vegan, hehe..), sampai yang suka kangen ma mie Aceh dan makanan Kudus sampai Danish Pastry!. So far, we find our balance this way.

We’re not perfect. We still enjoy eating with how the big family and most friends are eating once in a blue moon!

Tapi kalau bilang makanan vegan-vegetarian-raw itu nggak enak atau itu-itu aja, dan membosankan, that is NOT TRUE! Itu sama artinya dengan kitanya nggak pintar mengolah makanan πŸ˜‰ ting..ting..! (check my instagram Deasi Srihandi).

Facts:
Anak-anak kami kalau ditawarin vegan food or animal based, pasti milih vegan food (they are raised with mostly vegan-raw food since the first time they can eat real food).

Setelah bertahun-tahun jarang mengkonsumsi hewani, kalau ditawari aku dah nggak seberapa suka lagi, (My food imprint has changed!) kecuali sedikit jenis makanan, not for the meat, but because of the spices taste!

Sekarang yuk kita lihat gimana caranya mengkonsumsi lebih banyak sayur with Zero Waste style fool proof!
Refuse

1. Tolak mengkonsumsi makanan hewani setiap hari
2. Tolak belanja konsumsi hewani dengan packaging
3. Tolak belanja produk hewani impor

Reduce
1. Konsumsi hewani seminggu 1-3 kali saja
2. Belanja dengan membawa wadah sendiri
3. Belanja produk hewani lokal

Refill
1. Berbelanja susu kambing, sapi dengan sistem refill

Reuse
1. Jangan buang tulang dari sapi, ikan, ayam, kambing dan yg dikonsumsi lainnya, buat kaldu untuk masakan lainnya.
2. Jangan buang whey dari pembuatan keju dan sejenisnya, buat kaldu bisa lho.. atau buat bahan cake pengganti susu, dll.

Recycle
1. Pastikan untuk mendaur ulang karton susu, dan packaging dari belanja produk hewani yang bisa di daur ulang, botol susu literan itu plastik yang paling bisa di recycle, pastikan untuk tidak di buang ke TPA.

Rot
1. Komposkan tulang yang sudah di olah menjadi kaldu (sudah sangat lunak untuk mudah terdegradasi, ketimbang yang tidak dibuat menjadi kaldu terlebih dahulu).

zero waste 22.jpg

Pilihan mengkonsumsi lebih banyak pangan nabati itu bukan berarti
kita jadi tidak bisa menikmati hidup
tidak bisa menerima undangan teman dan kerabat tuk makan-makan
bukan pula kita jadi terobsesi untuk hidup perfeksionis
Nobody is perfect!
Tetapi setiap dari kita punya tanggung jawab atas kehidupan ini, atas sampah dan masalah dunia sekarang dan dimasa depan nantinya..

The problem is also starts from the food choice we make daily!


Deasi

Sumber
http://www.cowspiracy.com/facts/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s