Ramadhan journal + tips zero waste hari ke 25

Seberapa sering kita berpikir untuk membeli barang baru ketimbang memperbaikinya?

Hari ini kita ngomongin opsi Zero Waste:
“Perbaiki barang yang rusak sebisa mungkin, stop membeli barang baru!”

Kalau ingat jaman kecilku, hampir nggak masuk diradarku untuk keluarga membeli barang baru, jika barang yang ada rusak.

Masih lekat dibenakku, TV hitam putih di Manado yang dipakai ditahun 78 hingga 80 an, diperbaiki bolak balik, hingga dikirim ke rumah nenek di Mojokerto untuk dipergunakan sehari-hari, dan ini kupakai untuk menonton TV selama masa SMA di Mojokerto. Hitam putih ditahun 90an? kalo orang lain udah nonton RCTI, SCTV berwarna-warni, termasuk rumah ibu di Manado pake yang berwarna TV gede, aku nikmati saja TV hitam putih masa kecilku, yang nyari saluran aja kudu puter knop bukan tekan remote control. That’s 15 years later masih dipakai! rusak, dibenahi-rusak dibenahi!. Pun ketika aku menikah dan pindah ke Malang, suami beli TV second hand awalnya milik ibuku yang sudah tidak dipakai lagi, ini punya ibu ditahun 90an, kami pakai ditahun 2007 untuk nonton Discovery channel dan sejenisnya.

Ada lagi jam tangan ayah merek Casio sejak sebelum aku lahir, rusak dibenerin, terakhir lihat sekitar 5 tahun yang lalu, tapi karena ayah udah nggak bekerja kantoran (pensiun, jarang pakai jam tangan lagi). Ada lagi jam dinding Seiko yang usianya udah hampir seaku.

The bottom line is, Fix what’s broken semaksimal mungkin! Usaha tuk benerin. Jangan mikir beli baru semaksimal mungkin.

Sayangnya nggak seperti itu kenyataan saat ini.
Semua barang akan dengan mudah ke TPA ketika rusak, atau dirombengin. Kita memilih opsi beli karena ruwet kalau mau dibenerin. Harus kirim ke tempat reparasi, nggak dapat informasi jelas dari bagian reparasi, atau kebanyakan sekedar kita malas aja untuk follow up, toh ya barangnya nggak mahal. Mahal relatif ya.. tapi kok tetap saja, sering digampangkan?

Kalau mo mikir jaman kecilku..
Meski Allah sangat-sangat pemurah ngasih keluarga kami kecukupan, misal beli tv baru setiap bulan juga ayah dan ibu mampu, tapi itu nggak ada dibenak mereka.
Pasti sama juga dengan keluarga-keluarga lainnya, mulai dari yang nggak punya sampai yang berkecukupan apalagi berlimpah. Opsi memperbaiki itu adalah solusi utama.

What’s in our mind back then?
And what’s in our mind now?

Pelik juga ngomongin kenapanya..
tapi yang jelas:
1. Masyarakat sekarang jadi malas mo pergi ke tempat reparasi dan suka ngk percaya dengan reparasi panggilan.
2. Barang yang rusak, nggak bisa bertahan lama meski sudah diperbaiki (kualitas produk super duper menurun tidak seperti barang jaman dulu).
3. Barang mudah dimiliki, cashnya lebih murah apalagi kredit dengan berbagai macam cara.
4. Stimulan iklan super deras, bikin rusak jadi alasan tuk beli yang terupdate.
5. Only Allah knows what else our impulse of buying are..

Well..
We as a family, n our business still keeping that value, buy great quality and that the things we buy can be fixed.

Jadi apa yang bisa kita lakukan untuk nggak mikir buang barang rusak dan beli barang baru?
1. Empower companies untuk memberi kemudahan memperbaiki barang yang rusak.
2. Kita cuma beli produk yang kualitasnya bagus, service centre tersedia mudah dan untuk memperbaiki bukannya kayak solusi beli baru!
3. Belajar memperbaiki barang yang rusak
4. Simpan contact tempat-tempat memperbaiki barang, alat, dll yang bisa dijangkau dan kalau kita sibuk, mereka bisa pick up aja atau fix at home (that’s what we do all the time).

Nah bagaimana dengan kita yang rumahnya nggak di kota dan jauh dari mana-mana?
1. Belajar memperbaiki barang rusak
2. Bekali rumah tangga dengan peralatan untuk memperbaiki kerusakan

Ini ide honey untuk rumah kami yang ditengah hutan di pucuk bukit jauh dari mana-mana untuk solusi kerusakan barang, yang kalo buat perempuan kayak aku yang hobinya ngeliatin angka pengeluaran rumah tangga suka sebel sama pengeluaran.. haha! Suami bikin:
1. Wood work shop (alias ruang khusus tukang kayu tuk bikin perabot dan benahi apa-apa yang ada kaitannya dengan kayu).
2. Rumah pandai besi (ini rumah 1 ruang beneran khusus benarin segala hal kaitannya dengan metal work).
3. Pojok Natural skin works (tuk bikin or perbaiki yg ada kaitannya dengan bahan dari kulit).
4. Peralatan jahit kain sudah tau donk yang ini untuk apa..
5. Termasuk ada juga lengkap alat tuk benahi konstruksi rumah, sampai elektronik
Dannn.. ngerinya.. kita semua kudu belajar!
Nggak cuma honey aja yang bisa, that’s a MUST!
Jangan kamu tanya apa aku bisa pandai besi atau benerin kayu..
kita yang perempuan lumayan bisa ngapa-ngapain, cuma bagian bantu2 itu paling utama, hehe..
Hei.. we women can fix roof too!!
Apa sih yang nggak bisa kita benarin ? gigi bolong parah!
dan hati yang patah.. ini cuma Allah yang bisa benahi, MashaAllah!

Let’s do the Zero Waste whisper!
Refuse
1. Tolak opsi beli baru jika masih bisa diperbaiki

Reduce
2. Kurangi membeli barang dengan kualitas yang tidak bagus.
Misal, mending nabung dulu baru beli panci yang awetnya puluhan tahun, we did!

Reuse
1. Kalau sudah dibenahi, dipake donk.. jangan dijual.. ini sama aja cari pembenaran beli baru (at the bottom of your heart sisi mana yaaa? only you know).

Recycle
1. Sebisa mungkin hanya beli barang yang ada opsi recycle mudah! dan
2. Jika barang yang kita miliki sudah tidak bisa diperbaiki lagi, pastikan di recycle.

ROT
1. Baju dan barang-barang yang sudah tidak bisa diperbaiki, reuse dan recycle dan bisa di komposkan, pastikan untuk mengomposkannya sendiri atau dikirim ke tempat pengomposan masal (for real that you know!).

zero waste 25.jpg

Sepertinya ini jadi journal versi curhat ya..
Just remember, our buying decision have impact of creating waste
how we maximixe the life of the things we owned greatly will reduce or add more waste.

Think of Fixing what’s broken as an art
as vintage
as history value
as love you won’t let apart

Deasi

ps: I LOVE YOU!!!!

Souces:
http://www.1millionwomen.com.au/blog/broken-stuff-can-be-better-stuff-what-i-learnt-repair-fair/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s