Bagaimana hidup bebas hutang dengan 1 sumber penghasilan

Tulisan ini, seperti tulisan-tulisan lainnya yang agak nyeleneh dari pakem hidup modern ya.. jadi mohon maaf jika ada pihak yang tidak setuju, atau tidak bahagia bahkan jadi sebel karenanya.

I do fully respect your decision for choosing life with debt. Because I’m not in your shoes. I’m writing this for those who are interested to live a life without debt and even living with one source of income so that we can attend more of the family needs especially the little ones aka our kids by having less time working outside or even at home (this one is also dangerous if we don’t manage our time well).

Aku beruntung sekali, punya suami yang sangat paham dengan konsep kemandirian, kesederhanaan dan hidup bebas hutang dan hidup untuk membuat positif impact on earth only inshaAllah. Dengan tadinya hidup bersama orang tua sebelumnya yang lumayan tercukupi apapun yang aku butuhkan, hingga jalan-jalan ke luar pulau tiap tahun jadi agenda sejak aku bayi, weekend gateaway always, hidup berumahtangga dengan suami bule yang dipikir orang mewah merona (eh itu merah merona ya?), meski sebelumnya tinggal di LN, kita hidup sederhana.

Afford+the+finer+things+in+life,+like+high-fashion+quality+pieces,+without+the+debt.+Learn+how+to+do+it+using+Reeelit.+I'm+interviewing+the+co-founder+and+CEO,+Daniela+Corrente..jpg

Kami berdua punya mimpi untuk hidup di tanah yang luas, berkebun, mandiri, dan untuk itu butuh biaya yang sangat besar. Saat itu, cita-cita dan mimpi just stay as our motivation.

Kalau bisa di hitung, mungkin kita pindah rumah dan apartemen kontrakan sekitar lebih dari 10 kali baik di dalam dan luar negeri. And we’re ok with that. We don’t care about not owning a property whether it is a land or a house. Kita sangat bersyukur dengan apa yang kita punyai disetiap fase kehidupan keluarga kami.

Dan untuk bisa memiliki apa yang di amanahkan kepada kami saat ini, big mountain farm, eco business and a big family, kami berkorban dengan hal-hal yang sangat bisa memotong budget terutama dari hal-hal non prioritas. Sejak awal menikah kami memilih untuk tidak:

  1. Berlangganan TV kabel
  2. Memiliki saluran telpon land line and no new phone, alias aku akan dapat upgrade hp dari suami ketika hpnya harus di upgrade karena kebutuhan pekerjaan.
  3. Berlangganan Koran atau majalah (I’m huge readers n having multiple magazines on top of books I buy monthly when I was single).
  4. Makan di luar bersama keluarga 2 minggu sekali atau sebulan sekali (ketika di luar negeri).
  5. Memiliki kendaraan bermotor
  6. Nge-gym (olahraga sendiri di rumah).
  7. Tidak berbelanja setiap minggu (untuk groceries, belanjanya ketika keluar makan bersama keluarga) atau janjian ketemuan dengan sahabat.
  8. Memiliki lebih dari 1 laptop (honey’s work) dan 1 pc (for kids n family).

Tentang Pengeluaran Dapur:

  1. We prepare all meals at home, from scratch, mulai dari makanan utama hingga camilan, jus, saos tomat, keju, birthday cake, butter, nut butter, cuka apel, roti and anything you can think of!
  2. Belanjanya di pasar, produk lokal, dan tuk produk LN seperti lentils (gantinya kedelai) kita beli grosir.
  3. Kita selalu punya menu mingguan and we stick to it! Biar belanja nggak berlebihan.
  4. Dapur diorganisir agar nggak kedobelan beli bahan atau ada bahan busuk, makanan sisa nggak kemakan di kulkas, dll (this are also money waster!).
  5. Kita mengkonsumsi makanan vegan-vegetarian-raw, daging tuh super mahal lho… (plus makan banyak sayur tuh murah dan lebih sehat).

Tentang Pengeluaran anak-anak termasuk bayi:

  1. Mereka tumbuh dengan cloth diapering.
  2. Mommy looking after them, nitipin ke adik untuk jagain mereka di rumah sebentar, tukar dengan bantuin adik compare to paying money to baby sitter.
  3. Baju hands down, dari kakak-kakaknya, dari teman bahkan banyak yang masih seperti baru meski sampai sekarang kami masih suka dikasih baju bekas dari teman, termasuk customer GMS! Love you guys!!
  4. Buku bekas dari teman, dari perpustakaan, I should mention some name, here, Dearest Suzan, Kreta, mb Ade, Dina Bliss, duh sampai lupa nama-nama lainnya..
  5. Semua anak-anak nggak ada yang mengkonsumsi SUFOR, semua ASI exclusive ada yang hingga 18 bulan, rata-rata 2 tahun, si Yasmeen sampai 3 tahun!
  6. Nggak ada MPASI instant (semua makanan batita dibuat homemade).
  7. Nggak ada uang jajan sama sekali (bahkan untuk anak tertua sekalipun yg saat ini udah mo beranjak dewasa).
  8. Bahan homeschool seperti pensil, dan stationary lainnya beli grosir, untuk textbook dan sejenisnya langganan tahunan online.

Our monthly payments are only alias pengeluaran bulanan:

  1. House/apartment rent
  2. Listrik
  3. Air
  4. Internet
  5. Perpustakaan
  6. Waste management
  7. Building management

Don’t get me wrong, we DO NOT choose to homeschool over budget. There wasn’t an issue of finance about sending them to school.

Alhamdulillah, sejak hari pertama menikah, kami tidak berhutang. Usaha juga dibangun secara organik tanpa hutang.

Tentang Liburan, jalan-jalan dan transportasi kita Nggak pernah:

  1. Liburan keluar pulau sekeluarga apalagi ke luar negeri (yang kebagian, cuma mommy n daddy, itupun pas suami harus memperpanjang ijin tinggalnya, jadi sekali mendayung, ke negeri sebelah deh.. ^_^).
  2. Liburan setiap minggu atau setiap bulan (adanya setahun 1-2 kali paling jauh ke luar kota terdekat dari Malang)/local vacations only.
  3. Punya mobil, kita milih naik angkot, taxi sekarang dengan frekuensi yang lebih jarang keluarnya.
  4. Punya motor (eh pernah donk, 2 minggu kita miliki trus dijual lagi!), kita sharing pakai motor staff, sharing merawatnya juga termasuk servis motornya.

If you imagine how our house is, pretty empty, alias kosong, hanya ada perabot fungsional saja itupun sebagian besar dibuat sendiri oleh suami, atau sejak day one kami beli second hand atau pemberian teman. Kasian? Nggak lah.. Why would you think that? There are a lot of things circulating in this world already, a lot of stuff, a lot of clothes, furnitures, books (well, we keep buying this one, because knowledge is like water for thirsty person and supplements for healthy mind n soul). If you follow us for a while, you will notice (or came to our house maybe?) that nothing really to show you, haha..!

debt free.jpg

All bedrooms will only have: floor matrass n husband made clothes shelves, my bedroom have little bookshelf, coz I read books for kids at nite, and I can’t sleep without reading a book first!.

Living room has tv (documentaries, educational we download or buy only), 2 sets of bamboo sofas kinda with table (we’re big family and often get lots of visits from friends, etc), shelf again, kids homeschool table (big one), kids school shelves.

Prayer rooms: table for study, floor mat and that’s it!

Home office: functional photo studio, table (mine since university n shelf husband made as well.

Kitchen: The busiest stuff we owned in the house since food is consider our life priority, to be healthy so we can do our role in this dunya.

Sorry ya, kok nulis jadi kebawa English gini.. duh rekk.. sorri banget.. ini otak butuh training bahasa beneran deh..

So ya, gitulah sederhananya hidup kita, sejak suami saja yang kerja ketika GMS belum ada, kemudian aku diperbolehkan ngajar partime, GMS jalan, kemudian suami resign kerja di corporate dan milih work on his own time and choice of partner, nggak ada yang berubah dengan cara kita hidup. Semua yang kita punya tetap sama, yang rusak aja di ganti dengan yang lebih berkualitas, tapi ini pun jarang banget, seperti parutan garlic, aku miliki itu sejak 11 tahun yang lalu, termasuk banyak peralatan dapur lainnya. Nothing really changed.

life-without-debt.jpg

Budget bulanan kita cuma seputar, kebutuhan makan, bayar listrik (air pakai air tanah), pengeluaran untuk homeschool dan internet, Bulanan RT. That’s it!. Bayangin seberapa banyak yang bisa kita tabung atau kita habiskan dan dana yang masuk ke kantong keluarga nggak cukup adanya karena hidup yang lebih dari sekedar hal basic?

Kami berkorban, jelas iya, tapi kami bahagia dengan apa yang kami pilih Alhamdulillah. Hidup dengan sederhana seperti ini memberi kami sekeluarga lebih banyak waktu bersama which is what we want and especially to nurture the family and kids to shape the kids future and our future. Dan seiring menjalani kehidupan berkeluarga, dengan bertambahnya anak, dan cowives beserta anak-anaknya juga, kita jadi lebih mengerti, sebenarnya hidup mengejar upgrade gadget terbaru itu nggak penting-penting amat, atau ganti furniture tiap lebaran, atau baju baru branded, rumah mewah dengan mobil keluaran tahun terbaru. Nothing really matters to us.

Debt Free life is very possible, its worth a million times to be able to have more time for our family because we as parents are there for them.

Deasi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s