Bagaimana cara kami mengatur hidup dengan 5+ anak +bekerja dari rumah+ berhome-education+berhomesteading

Sudah lama saya nggak sharing tentang perjalanan jadi stay home mom, mendidik anak-anak dari rumah dan segala hal dikeseharian kami lainnya. Obrolan satu ini adalah salah satu hal yang paling sering ditanyakan oleh teman-teman.

Bagaimana cara saya mengatur hidup bekerja dari rumah, berhomeschool, berhomesteading dengan banyak anak?

Saat ini jumlah anak dikeluarga kami sudah 6 dengan 2 remaja. And I’m now blessed to have great cowive to share my life with. And it’s a great blessing to have more shoulder to cry on, hands to hold me upon walking on the difficult road.

Apa hidup seperti ini sulit?
Cuma mo bilang, It’s hard, really hard (tapi mana ada sih hidup yang nggak sulit) Life is a struggle and will always be, because Allah put us here as a test and to filter which of us deserve His Love.
Beneran banget waktu-waktu seperti ini adalah waktu-waktu yang sulit.
But it’s really rewarding.

Benar-benar butuh kerja keras, ketetapan hati dan disiplin untuk bisa melakukan semuanya.

Memungkinkan? Sangat!

I won’t trade my life, our life with anything else meski sulit terutama ketika anak-anak masih kecil dan masih butuh bimbingan one on one, ketika mereka diusia dibawah 10tahun.

I’m basically in this mode for more than a decade now. Karena kita selalu punya anak kecil Alhamdulillah dan kita selalu berhomeschool dan kita selalu berhomestead (sejak menikah) mau itu berhomestead di settingan hidup urban perkotaan atau di rumah di pucuk gunung.

1524824_1383129531942486_1151408188_n.jpg
Bagaimana transisi kehidupan dengan lebih dari 2 anak?

Ketika kami memiliki 3 anak, semuanya menjadi lebih menantang. Tapi bisa termanage dan semuanya bisa berjalan tanpa bikin saya atau suami jadi gila.

Kuncinya, suami membuat jadwal untuk semua anggota keluarga and we stick to it dan kami membuat hidup kami sangat sederhana, mulai dari apa yang kami miliki, cara melakukan sesuatu hingga menu makanan dan daftar belanja.

Seperti contoh:

  • Saya tidak menyeterika baju-baju kami, semuanya setelah kering hanya dilipat dan dimasukkan atau dibagikan ke pemiliknya (setiap anak mulai usia 6 tahun sudah bisa melipat baju dan membawa pakaiannya ke lemarinya masing-masing termasuk menatanya jika berantakan) dan mereka bertanggung-jawab atas lemarinya juga.
  • Diawal ketika belum punya co-wife, saya menyediakan makanan keluarga dengan system freezer meal. Memasaknya dalam jumlah besar 4 kali dalam seminggu, dan dibagi ke dalam wadah yang kemudian dibekukan, jumlahnya dibagi berdasarkan banyaknya hari dan akan berapa kami dikonsumsi. Jadi saya punya waktu rehat 2 hari seminggu untuk tidak memasak dan menggantinya dengan kegiatan keluarga di akhir pekan seperti rekreasi, berkunjung ke rumah teman atau sekedar bermain di rumah.
  • Rumah kami bisa dibilang tidak ada perabotnya, kecuali perabot yang penting: kasur lantai (tanpa frame tempat tidur), lemari buku, lemari pakaian, meja belajar, kursi set bamboo di ruang tamu. Itu saja. Dengan begini, jadi sehari-harinya saya bisa super mudah menjaga kebersihan rumah dan sangat menghemat waktu. Juga rumah jadi child proof alias aman untuk anak-anak kecil kami.
  • Ketika belum punya cowife saya nggak aktif di sosial media manapun. Pun saat ini ketika sudah punya co-wife, saya menjaga untuk tidak disibukkan dengan kegiatan online selain pekerjaan dan sharing sesekali.
  • Kegiatan diluaran yang saya pilih hanyalah kegiatan yang melibatkan keluarga atau paling tidak anak-anak. Jadi saya tidak kesulitan untuk mengatur aktifitas kami sekeluarga.
  • Semua aktifitas keluarga dan segala hal kaitannya dengan kebutuhan informasi untuk keluarga semua saya atur di household binder. Seperti hardiskku istilahnya, karena mustahil saya bisa ingat semua. Dan semua file di filling pada tempatnya.
  • Rules untuk semua anggota keluarga, “you take it out, you put it back”
  • Sebelum makan siang dan sebelum tidur selalu ada waktu untuk bersih-bersih “clean up” untuk saya dan anak-anak. Jadi rumah tidak sampai jadi “kapal pecah”.
  • Dapur selalu bersih setiap sehabis jam makan. Tidak meninggalkan cucian piring sebelum tidur/dapur tidak boleh masih berantakan ketika saya pergi tidur dimalam hari.
  • Sambil memasak sambil membereskan dapur.
  • Sambil mandi sambil sedikit menggosok kamar mandi (dibanding bersih-bersih kamar mandi seminggu sekali).
  • Setelah bangun tidur, hal pertama yang dilakukan adalah langsung menata tempat tidur (semua anak menata tempat tidurnya sendiri, dengan atau tanpa bantuan mommy).
  • Cucian pakaian harus dicuci setiap hari
  • Daftar menu bergulir 2 minggu sampai 1 bulan sekali dan terkadang sampai berbulan-bulan. Karena daftar menu ini terintegrasi dengan daftar belanja dan jadwal belanja. Menggantinya atau tidak mengikutinya sama dengan saya pusing mikirin apa yang mau dimasak atau apa bahan yang kurang, bottom linenya saya jadi buang-buang waktu saja.
  • Menu sarapan sangat sederhana, biasanya oats apple cinnamon atau fruits smoothie dengan homemade granola atau pita bread dan chocolate spread (homemade). Semuanya dibuat sederhana, bergizi, lezat dan mudah disiapkan
  • Snack kami juga dibuat sederhana seperti: fruits smoothie, green smoothie, buah dimakan begitu saja dan sesekali baking cake dan sweet bread yang sekali baking bisa dimakan 2 hari.

Kesemua hal sepele diatas membuat saya punya banyak waktu dan kemudahan untuk mengajar anak-anak dan masih menyempatkan waktu untuk melakukan pekerjaan rumah tangga lainnya dan punya pekerjaan sampingan.

Bagaimana cara mengajar lebih dari 3 anak?

Untuk anak-anak yang sudah bisa mengerjakan tugas secara mandiri, setelah mereka diberi instruksi one on one, mereka akan mengerjakan pr-nya sendiri, dan disaat sang kakak mengerjakan tugasnya sendiri, saya fokus untuk mengajar anak yang lainnya.

Anak-anak kami biasakan sejak bayi untuk ikutan kegiatan homeschool, dengan ritme yang sama. Jadi mereka tidak rewel dan mudah diatur.

Untuk bayi, biasanya sangat tidak menggangu, dia akan tidur atau diam atau menyusui dengan tenang sambil saya mengajar anak yang lain.

Untuk anak balita atau toddler, mereka ini yang paling menantang. Ketika saya harus fokus dengan anak lainnya, si toddler akan saya kasih mainan atau buku dan pensil atau kalau tidak mempan, keluarlah senjata menonton educational di laptop atau ipad. Kami juga punya tv yang isinya semua adalah educational sesuai kebutuhan anak, mulai dari preschool folder, Islamic, science, art, history, homestead, dll. Dan video-video ini kami update (ganti/tukar) secara berkala. Pun ada folder movie for kids dengan tontonan yang sudah kami screening sebelumnya.

Untuk mata pelajaran yang kami ajarkan adalah dengan mengambil mata pelajaran yang sama untuk semua anak. Jadi tidak ada anak yang sedang belajar matematika ketika anak lainnya belajar science. Dengan begini persiapan pelajarannya juga lebih mudah.

Popok, mainan untuk si kecil, tempat sampah, minuman dan snack sudah harus ready sebelum pelajaran dimulai.

Peralatan belajar/stationary double ready setiap saat, dan setiap anak cuma bisa pegang 1 pensil dan 1 penghapus disampingnya (ketika tidak perlu menggunakan alat belajar lainnya). Semua pensil sudah teraut (anak-anak yang besar akan meraut semua pensil diwaktu luang mereka terutama beberapa menit sebelum belajar dimulai).

Bagaimana cara saya menyeimbangkan kehidupan pernikahan sambil menjadi ibu dan mengajar anak-anak?

Anak-anak tertib pergi tidur setelah sholat Isya, paling lambat jam 8 semua sudah terlelap tidur. Untuk anak-anak balita, saya pastikan mereka tidur jam 7. Dan anak-anak yang lebih besar, bisa melakukan hobinya atau menghabiskan waktu dengan saya tanpa gangguan adik-adiknya setelah si adik-adik tidur. Dan ritual tidur seperti ini sudah berjalan sejak anak pertama hingga saat ini, tidak ada yang berubah. Sesekali ada anak yang begadang karena dibiarin crafting atau baca buku, atau nonton bersama di akhir pekan. Namanya anak, kalau nggak didisiplinkan tidurnya, nggak disuruh tidur, nggak akan pergi tidur.

Nah ketika yang kecil-kecil sudah tidur, saya dan suami menyempatkan diri untuk “waktu kami” menonton bersama, atau mendengarkan pelajaran.

Sesekali ada ibu atau adik datang dan memberi waktu untuk saya dan suami pergi keluar rumah untuk sekedar “ngedate” entah itu ke toko buku, atau makan diluar.

Kalau sekarang punya cowife lebih enak lagi, karena bisa punya lebih banyak waktu lagi dengan suami :-). Bisa jalan-jalan berdua ke hutan, atau sekedar gardening berdua tanpa diganggu pasukan toddlers!.

Masalah sosialisasi anak-anak?

Ini jadi masalah kedua terbesar setelah masalah ijazah yang sering ditanyakan kebanyakan orang.

Anak-anak kami terbiasa beraktifitas dengan berbagai usia, mulai dari bayi hingga dewasa dikesehariannya. Tetapi, karena anak-anak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa Ibu (padahal bapaknya yang WNA bukan ibunya), untuk anak-anak yang belum remaja, mereka belum luwes untuk menempatkan diri atau bergaul dengan bahasa Indonesia (kecuali mereka-mereka yang sudah dikenal dikesehariannya). Ini PR saya sebagai mommy. Not giving up, tetap ngajarin mereka bagaimana cara bersosialisasi di tempat mereka tinggal.

Bagaimana saya menjaga hati n pikiran agar nggak stress?
I gotta say, my number one reason is that I do all this because of the love for Allah. Sound very klise, but that’s the only thing that keep me/us going.

When you do things because of love, you become blinded by all the things that will weigh you down, upset you, troubled, tiredness, etc.

Bukan berarti saya nggak punya capek, nggak pernah lelah hati, nggak pernah mau marah, nggak pernah bicara dengan nada tinggi. The voice barometer in the house sometimes sky rocket too!

This is what I constantly doing to destress if you are interested to dig deep

  • I find what are the simple things that I love in my household or roles as mom/wife or teacher, like practical things that I will chose to do more when I’m upset, sad, simply to relax, mine such as: gardening, cleaning up, organizing, preparing homeschool lessons, baking.
  • I keep nurturing my mind with spending more time reading books that will grow my knowledge on the area that I actually love like plants, homesteading, essential oils, Islamic history. I have long list of things I love to read. I always have book by my bed that I will read before I go to sleep, and still until now, I fall asleep with book by my side.
  • I take time to take a luxurious bath 😉 and I mean home style luxurious bath. This is what I do: Before I take a bath, I will prepare: magnesium oil to add into my hot water bath and a drop of frankincense essential oil which is great to unwind and ease muscle. Then before I take a bath, I will do either dry brush with our lymph and cellulite serum, 1 drop will energize me. Then I do facial mask (quick one), then just pouring warm water (slightly hot) to help me relax. After bath, I will anoint my body first with Royal Rose Paradise Mist that I made from distilling rose petals with sandalwood and immortelle. After I will oil my body with Sandalwood mix. Then I enter my bedroom that I already have mist diffuser running with the Love Attar or Sweet Dreams. By then I’m ready to continue my evening calm, energized and in deep serene to spend the night reading for the kids and pray. I don’t do this every single afternoon (as I don’t take a bath daily), but when I know I’m not well and need a health n mood booster, this I certainly do.
  • Morning walk has been our family ritual. For me and the kids. We make time around 5.30 am to take a walk and play outside until around 6.30 and basking under the sun, sometimes we play sun gazing with the kids, and just expose our self to sun and fresh air and moving our body. It really set our mood (the whole family especially me and the kids are more relax as well).
  • I watch Islamic lessons that I love, it’s a good mood and spiritual booster indeed.
  • Watching stuff like homestead wt the family has also been my distress for many years. The kids also enjoy this so much.
  • Drinking coffee and cake at noon with honey when he is around has been another destress as well, we sit, drink and watch comedy together or downloaded series like forge and fire, Alaska the last frontiers, homestead rescue.

Kenyataan di rumah kami yang tidak pernah berubah:
Our house never had an updated furniture (except if we need additional stuff) kita belum pernah mengganti furniture karena misal bosan atau outdated.
Not everytime we go out, that the kids will dress up with beautiful clothes and I don’t really care about it, even I go out comfortably with the same hijab (not even changing my go to hijab for the past 5 years).
I work with pajamas / daster (whatever comfortable to wear)
I don’t right away mop the floor when toddler pee on the floor (I’ll just soak it up and dry it and mop later when I have time).
I’ll talk and sometimes shout like captain! My troop sometimes need shout out!
I have a messy workspace when I have deadlines and my toddler choose to be creative behind or beside my desk.
I let the kids tidy their bed the style they want (even if it often makes me scream on my head, saying, “Why you fold your blanket and make it like a castle???”).

Life is a journey and each of us choose our own path
Whatever path we choose, may it lead us to nothing but good end.

Deasi

Advertisements

2 thoughts on “Bagaimana cara kami mengatur hidup dengan 5+ anak +bekerja dari rumah+ berhome-education+berhomesteading

  1. Udah beberapa bulan ini follow cerita keluarga Mbak Deasi yg sangat unik dan inspiratif. Banyak hal yg ingin saya ketahui tentang keluarga Mbak Deasi dan Islam seperti apa yg Mbak Deasi sekeluarga jalankan sehari2. Bisakah lebih banyak diceritkan Mbak?
    Saya juga sedang mengumpulkan video2 alternatif untuk tontonan kami sekeluarga.. Boleh tahu koleksi tontonan anak dan orangtua (educational or entertainment) di rumah Mbak?
    Terima kasih sebelumnya sudah berbagi kisahnya Mbak 🙂

    1. Hai Via, inshaAllah saya terus sharing kok 🙂 selama dikasih kesempatan sama Allah. Kami ngikut the school of Maliki. InshaAllah saya share list video belajar kami ya.. itu banyak sekali.. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s